DOUBLESHINEEFF IS SEEKING FOR THE AUTHORS!

ANNYEOOOONG HASEYOOO

 

begini readers doubleshineeff tercinta~

kami para author di doubleshineeff memang sedang masa sibuk, mulai dari dhyaverol2min yang PRnya menumpuk, Choi Seungmi yang sibuk ospek, imnunasboy yang kemarin2 baru saja sembuh dari sakit dan tentu butuh istirahat banyak sampai sembuh total, androiders31 juga sepertinya sedang sibuk dan saya sendiri, flamingaze yang juga sedang kesulitan mencuri waktu untuk mengetik FF 😥

maka dari itu…

kami putuskan, bagi kalian yang suka menulis…

kami membuka tempat bagi kalian yang mau, untuk menjadi :

 

AUTHOR TETAP

ataupun

AUTHOR FREELANCE

dengan catatan bahwa FF yang kalian tulis :

YAOI ONLY dan CASTNYA SHINEE

 

kalau kalian berminat, silakan komen postingan ini dengan menulis username serta email kalian. yang mau menghubungi lewat facebook atau twitter atau akun AFF (?) juga silakan…

 

KAMI SANGAT MENUNGGU PARTISIPASI KALIAN ~

 

 

KAMSAHAMNIDAAAAA~

 

best regards,

 

flamingaze

Iklan

NEED A PASSWORD?

annyeeeoong ^0^

kalian yang sudha dapat PW ga masalah kok . Saya belum niat ganti PW , cuman mau mindahin aja cara mendapat kan PW

Sepertinya lewat email sangat sedikit sulit di karenakan beberapa alasan yang kalian berikan di komentar yang kalian post ^^

JEONGMAL MIANHAE

Kita cuman manusia biasa yang ga sempurna , blog ini baru dan kita belum sempet mikir untuk kedepannya , dan saya sangat berterimakasih untuk yang beri semangat dan selalu komen 😀

Komen adalah penyemat kita heeeei kawaaan , iya kemarin saya taruh untuk meminta password di page . Tapi sekarang saya pindahin kesini dan caranya juga sedikit saya ubah ^^

mulai tanggal 28 page NEED A PASSWORD? I give you~

saya tutup oke .
 
 
Miaaan , yang kerja di blog ini cuman berdua , saya dhyaverol2min masih sekolah jadi masa-masa sibuk . Dan flamingaze kuliah dan yah kalian tau tugas kuliah seperti apa banyak nya . 
 

Yang minta saya kasih dua kemudahan saja , lewat email ataupun twitter ( menggunakan DM ) :

– Komen di post-an ini dan beri nama username dan email kalian atau nama twitter , contoh :

email 

Username : ______

Email         : ______

-dhyaverol2min-

  

ENJOOYYY

Their Postponed Story – 2Min [Oneshoot]

HI GUYSSSS

 

 

This fic is requested by: Hana

Jadi Hana tuh pernah 3kali ngerequest tapi belum sempet aku bikinin mulu JADI KUGABUNG SEMUA HAHAHA ALHASIL INI PANJANG BANGET /dead

 

 

Also, I made efforts for this so please give me your feedback ( >.< )

 

 

 

Their Postponed Story

Author: flamingaze

Cast: 2min, key, OC

 

 

 

 

 

BGM: Justin Bieber – Stuck in the Moment

 

 

 

 

 

 

 

“That wall between these two”

 

 

===

 

 

 

“Mom, please. Aku tidak bisa datang malam ini.” Taemin menjepit handphonenya di antara bahu dan telinganya seraya menyalakan kran westafel untuk mencuci tangannya. “Hari ini aku harus jaga malam – oh God, mom. Hanya karena aku atasan mereka bukan berarti aku bisa bertukar jadwal seenaknya.

“Tidak, bu. Pasien UGD sangat banyak, aku harap ini bisa dimengerti…” ucapnya seraya berbisik ketika seseorang masuk ke toilet untuk mencuci tangan di sebelahnya.

 

Taemin menutup kran westafel ketika ia selesai mencuci tangannya. But…

“Oh shit!” umpatnya sambil berbisik ketika ia tidak sengaja menjatuhkan handphonenya yang sedari tadi terjepit di bahu dan wajahnya itu ke westafel. Now that little gadget is wet.

 

Ia hampir mengambil tisu di sampingnya tetapi kalah cepat dengan pria di sampingnya.

 

 

 

Once he was about to protest, ia terdiam. Laki-laki ini…

 

“Sorry,” ucap laki-laki itu tanpa rasa bersalah, karena ia baru saja mengambil tisu terakhir di westafel untuk mengelap tangannya yang basah.

 

Taemin menelan ludahnya. Wait… is he…. mungkinkah……….

 

 

 

Tanpa berpikir panjang, ia lalu melirik name tag di jas laki-laki di sampingnya ini.

 

  1. Choi Minho.

 

 

 

With you, with you

 

 

Right.

 

Matanya melebar seketika melihat nama laki-laki itu. it’s him? Oh my god??? Ia tidak menyangka bahwa mereka bekerja di rumah sakit yang sama. Okay, dua hari yang lalu ia mendengar dari beberapa dokter magang yang tengah bergosip di kantin bahwa mereka tidak sabar untuk masuk ke poli kejiwaan karena mereka bilang ada psikiater baru yang praktek di sini dan akan menjadi dokter pembimbing internship mereka selama mereka di poli tersebut. Never did he predict that… it would be him – oh okay, actually, ia tidak pernah menyangka bahwa Minho menjadi seorang dokter.

 

 

“Apa mungkin kau… Lee Taemin?”

 

Pertanyaan laki-laki itu membuat lamunan Taemin lenyap seketika. Well, ia bisa melihat dengan jelas bahwa Minho, that guy, juga mengecek name tagnya. And yeah… ia tidak mungkin mengelak.

 

“Kau Lee Taemin… dari SMA Hannyoung?”

 

Laki-laki yang lebih pendek itu mengedipkan matanya dua kali. wait… dia… jangan katakan… Choi Minho… mengingatnya?

Masih dengan ekspresi kaget, Taemin hanya bisa mengangguk.

 

“Apa kau ingat aku? Aku Minho. Choi Minho, dari kelas XII-2,” ujar Minho, menyapanya dengan senyum.

 

‘Of course! Of course aku mengingatmu!’ Taemin bicara dalam hatinya. Ia tidak mungkin lupa bagaimana ia selalu melirik jendela kelasnya hanya untuk melihat Minho yang sering melewati koridor kelasnya setelah kelas sejarah selesai untuk mengembalikan buku yang dipinjamkan selama pelajaran ke ruang guru.

 

I wish we had another time,

I wish we had another place

 

But heck ya, seiring dengan ingatannya semasa SMA, ia seolah kembali ke masa-masa itu – hanya saja saat ini he’s in a completely different time and place. But just like the old times, seolah masa remajanya kembali ke jiwanya saat ini, somehow… it feels like that days.

 

“Tidak. Aku tidak ingat.” Taemin menjawab dengan tegas, dan jutek.

 

“Oh ya? dulu aku berada di kelas sebelah kelasmu –“

 

“Excuse me, aku harus pergi mengecek pasien.” Taemin buru-buru memotong kalimat Minho dan pergi dari hadapannya, meninggalkan Minho yang masih bingung.

 

However… the taller guy smiles seeing him went away. Okay, maybe not today, but later… at least, dalam keadaan saat ini, Minho sudah memiliki kepercayaan diri yang lebih baik untuk bicara pada Taemin.

 

Unlike when they were in high school….

 

 

.

.

.

 

“Baik, sampai sekian dulu. Jangan lupa kalian akan ada tes minggu depan.”

Kalimat Mr. Lee – guru sejarah di saat bel istirahat tengah berbunyi itu membuat gairah para siswa yang tadinya bersemangat untuk pergi ke kantin, atau bermain bola di lapangan menjadi menciut. Bagaimana tidak? Pelajaran sejarah adalah salah satu kelas yang paling membosankan bagi mereka dan Mr. Lee tidak pernah memperbolehkan mereka untuk meminjam buku dengan alasan agar mereka rajin mencatat – dan ini membuat segalanya semakin sulit karena banyak di antara mereka yang tidak suka mencatat.

 

Kalau sudah begini, hanya ada satu siswa yang bisa menyelamatkan mereka – at least separuh dari isi kelas, karena yang lainnya lebih suka menyontek pada saat ujian.

 

“Sekarang, siapa yang bisa membantuku membawa buku-buku ini?” ujar Mr. Lee.

 

Salah seorang siswa mengangkat tangan, dan dialah siswa yang menyelamatkan mereka semua saat ujian.

 

“Okay, Choi Minho. tolong kumpulkan buku-buku dari meja temanmu dan bawa ke ruanganku.”

 

Minho, laki-laki berkacamata tebal itu hanya mengangguk dan dengan segera mengambil buku satu per satu dari setiap meja – beruntung tangannya cukup kokoh untuk membawa tumpukan buku-buku tersebut.

 

“Hey, coconut! Kau tau apa yang harus kau lakukan saat ujian sejarah kan?” ucap seorang laki-laki gendut, dia adalah Kang Jiho. Hobinya adalah membully anak-anak tertindas; yang nomor satu adalah Choi Minho.

 

Mendengar itu Minho hanya diam dan tetap mengumpulkan buku. ia tidak membalas apapun, toh tidak hanya ujian sejarah, tapi setiap kali ujian Minho memang selalu membuatkannya dan ganknya contekan, dan ia harus begadang semalaman hanya untuk memastikan bahwa contekannya bisa dibaca dengan jelas.

 

“Haish. YAH! Beraninya kau tidak menjawab ucapanku!!” Jiho emosi karena laki-laki culun itu tidak membalasnya. Ia lalu menendang Minho hingga ia terjatuh.

 

Gelak tawa dari Jiho dan teman-temannya segera mengikuti suasana setelah dagu Minho berbenturan dengan lantai. Buku-buku yang ia pegang pun berserakan.

Berjalan mendekat, ia lalu menarik kerah baju Minho sebelum laki-laki itu sempat mengumpulkan buku-buku tadi lagi.

“Hey, bodoh! Kalau aku bicara apa kau boleh tidak meresponku, ha?” ucap Jiho.

 

Minho menggeleng cepat. Ia tidak ingin dihajar dan membuat ibunya khawatir ketika melihat wajahnya babak belur.

 

“Bagus, kalau kau paham. Aku akan memberikanmu kompensasi saat ini karena kau perlu memberikan sesuatu untukku di ujian sejarah minggu depan. Apa itu? katakan padaku apa yang perlu kau berikan.”

 

“A – aku akan buat… contekannya –“

 

CATATAN!! Yah! Siapa yang menyontek? Kau kan memberiku catatan dengan sukarela!” ucap Jiho.

 

“Iya… maksudku… maksudku catatan…” Minho merespon.

 

“Tsk tsk tsk. Aku jelas mendengarmu mengatakan contekan. Yah, Jiho! Apa benar kau begitu murah hati sampai kau mau membiarkannya pergi begitu saja setelah mengataimu orang yang suka menyontek?” ucap Shin Dongil, salah satu teman Jiho. Matanya sipit dan rambutnya selalu diberi gel agar bentuknya bisa cepak sempurna(?) (-__-)

 

“Huh? benar juga. Awas ya, lihat ini baik-baik –“ Jiho baru saja menyiapkan tinjunya, sampai tiba-tiba…

 

 

 

“Oi, Jiho!”

 

 

Now Romeo and Juliet,

Bet they never felt the way we felt.

 

 

There… there he is.

 

Lee Taemin. Dari kelas sebelah.

 

“Ada seorang perempuan yang bernama Kim Minyoung menitipkan ini padaku tadi pagi di depan pagar sekolah. Mereka bilang ini untukmu.” Taemin yang sedari tadi berdiri di ambang pintu belakang kelas kini masuk dan berjalan mendekat, menyerahkan bungukusan pada Jiho.

 

“Kim… Minyoung katamu? Apa benar Kim Minyoung? Bagaimana ciri-cirinya?” ujar Jiho.

 

Taemin menaikkan satu alisnya. “Rambutnya panjang, make upnya sedikit menor, dia tinggi dan langsing. Kau mengenalnya, bukan?”

 

Sontak, Jiho dan teman-temannya segera mem-woaaaah dan Taemin yang melihat itu hanya berdecis. Ia lalu melirik ke samping dan melihat Minho yang duduk di lantai, berantakan karena ia hampir babak belur.

 

Mengalihkan pandangannya, Taemin lalu bicara, “aku bisa saja melaporkanmu ke kepala sekolah karena Kim Minyoung menitipkan rokok untukmu.”

 

“Yah! Yah! Yah! Lee Taemin!” Jiho hampir menyekap mulut lelaki cantik itu, tetapi Taemin segera menghindari tangan gendutnya.

 

“Aku akan bungkam kalau kau enyah dari sini dan tidak membuat keributan di kelas.” Taemin bicara, membiarkan Jiho dan teman-temannya membisu karena ancamannya. Ia lalu menghela nafasnya karena ia tidak direspon. “Apa otak kalian sedangkal itu? aku tidak mau ikut terseret sebagai saksi hanya karena aku mengantar pesanan rokokmu di kelas.”

 

Well, well, well, surprisingly, it works?! Jiho dan teman-temannya segera kabur setelah Taemin bicara. Dan itu membuat Minho heran, bagaimana bisa Jiho yang dari ukuran saja bisa meninju Taemin malah takut dengan ancamannya? But… whatever.

 

 

 

“Umm… terima kasih…” ucap Minho ketika Taemin berbalik untuk keluar dari kelasnya.

 

Laki-laki cantik itu diam, lalu menoleh. Ia menatap Minho dengan dingin. Tatapan itu… benar-benar mengintimidasi – you don’t have any idea, dan jantung Minho hampir copot karenanya.

 

“Cepat antarkan buku itu ke Mr. Lee dan urus dagumu yang berdarah,” balas Taemin singkat.

 

 

 

 

But yeah, Minho was actually mengikuti saran Taemin. Ia pergi ke klinik kesehatan sekolah untuk mengobati dagunya ketika jam istirahat belum berakhir.

 

“Siang, ada yang kau perlukan di sini?” Ia disambut oleh seorang wanita petugas kesehatan di klinik sekolah.

 

Minho hanya tersenyum, lalu menunjuk dagunya yang lecet.

 

“Oh, astaga! Apa yang terjadi? Ayo kemari, aku akan mengobatinya.” Wanita itu lalu menyuruh Minho masuk dan duduk di kursi dekat ruang periksa. “Taemin? Bisa bantu aku menangani Joonyoung?”

 

 

Huh? taemin?

 

Tidak lama kemudian, Minho melihat Taemin keluar dari balik tirai kasur yang digunakan untuk istirahat para siswa ketika mengalami sakit pada jam sekolah.

Uh oh. Ia baru tau kalau ternyata Taemin adalah anggota palang merah remaja di sekolah, jadi basically, dia membantu merawat teman-temannya yang sakit selama jam istirahat dan kadang-kadang ketika pulang sekolah – mereka bahkan memakaikan jas putih seperti dokter bagi pengurus klinik kesehatan.

 

Taemin, laki-laki itu tidak bicara dan langsung menangani Joonyoung – salah satu siswa yang masuk ke klinik sebelum Minho datang. Rupanya Joonyoung sedang demam dan apparently, mereka butuh mengompresnya.

 

Masih diam, Minho lalu memandang Taemin yang sibuk mengompres dahi Joonyoung, ia lalu mengatakan pada Joonyoung untuk bertahan sebentar lagi, karena mereka sudah menelepon ibunya dan beliau sedang dalam perjalanan untuk menjemput Joonyoung.

 

Mengedipkan matanya, Minho menjadi sedikit bingung. Ia tidak salah ketika melihat Taemin mengancam Jiho dan teman-temannya, lalu memandang dirinya dengan dingin, tetapi ketika ia bicara pada Joonyoung yang sedang sakit, ia terlihat sangat peduli, dan lembut.

 

“Astaga, Taemin, maaf. Apa kau bisa membantu Minho sebentar? Aku harus menemui staf tata usaha untuk daftar rincian stok P3K yang habis.” Wanita petugas kesehatan tadi kembali membebani Taemin dengan tugas – yeah, mau bagaimana lagi, mereka hanya berdua menjaga di klinik ini karena salah satu petugas tetap sebelumnya resign.

 

Dan Taemin hanya mengangguk.

Ia lalu menghampiri Minho setelah selesai dengan Joonyoung. Menarik kursi, Taemin lalu meletakkan kapas, rivanol, dan salep luka beserta plester di kotak kecil di atas meja. Dengan hati-hati, ia membasahi kapas dengan rivanol.

“Tahan sedikit, ya. ini akan sedikit sakit,” ujarnya, kemudian meletakkan kapas tadi di dagu Minho. ia lalu menekan-nekannya sedikit, kemudian mengambil salep dan mengoleskannya di bagian yang luka.

 

Huh? minho hanya bisa mengernyitkan alisnya. ia tidak merasakan sakit sama sekali. Jadi ia hanya melirik Taemin yang sibuk mengusap-usap lukanya dengan salep.

 

“Kenapa?” Taemin bertanya, masih sibuk dengan urusannya.

 

Mengetahui Taemin yang sadar diperhatikan oleh Minho membuat Minho kaget. Laki-laki culun itu lalu mengalihkan pandangannya dan menggeleng. Ia hanya diam dan duduk dengan kaku(?) ketika Taemin menempelkan plester di dagunya.

 

 

Bonnie and Clyde,

Never had to hide like we do, we do.

 

 

“Jangan lupa lepaskan plester ini setelah kau sampai rumah. Kalau kau cuci muka, pakai air hangat saja dan jangan lupa oleskan salep ini lagi. Wait, aku ambilkan. Sepertinya klinik masih punya persediaan,” ujar Taemin, kemudian berdiri dari duduknya dan menuju rak obat, mencari-cari salep luka yang biasanya diberikan sekolah kepada siswa dengan cuma-cuma. “Oh, dapat!” sahutnya, kemudian mengambil dan menyerahkannya pada Minho.

 

Minho mengangguk, kemudian mengambil salep tadi dari tangan Taemin. “Terima kasih, um… dokter?” ucapnya awkward.

 

Seketika Taemin tertawa kecil, tapi kemudian ia berdehem ketika melihat Minho tidak ikut tertawa (*-_-*) “Kau bisa memanggilku dokter nanti ketika aku sudah benar-benar menjadi dokter.

 

Minho mengerjapkan matanya beberapa kali. “Kau… akan menjadi dokter?”

 

Taemin mengangguk dengan pasti. “Itu cita-citaku sejak kecil.”

 

Mendengarnya, Minho hanya bisa ber-ooh. Ia merasa kagum pada Taemin yang bahkan melakukan apa yang ia cita-citakan sejak ia masih remaja seperti ini – ia ikut klub palang merah remaja dan melakukan pengobatan ringan pada teman-temannya secara sukarela. Sangat berbeda dengan Minho, yang tidak tau akan menjadi apa. Satu-satunya hal yang ia lakukan dengan baik adalah belajar dengan tekun selama sekolah. Ia bahkan tidak tau apa yang akan ia lakukan setelah lulus SMA nanti.

 

 

You and I both know it can’t work

 

Kau pasti akan jadi dokter yang keren nantinya,” ucap Minho.

 

Taemin mengernyitkan alisnya. “Semua dokter selalu keren. Mereka membantu pasien untuk sembuh.”

 

Minho menelan ludahnya. Well? Kalau memang seperti itu… apa ia boleh bermimpi menjadi dokter? Setidaknya, suatu hari, ia akan menjadi sosok yang keren di hadapan Taemin.

 

 

.

.

.

 

 

 

Terengah-engah karena berlari terlalu cepat – right, Taemin berlari setelah keluar dari toilet laki-laki – ia segera masuk ke dalam ruangannya dan duduk di balik meja komputernya. Di luar dokter-dokter UGD lain sedang sibuk berlalu lalang menghadapi pasien yang baru saja datang, ataupun yang akan selesai rawat inap.

 

Di balik papan namanya yang dipajang sebagai kepala UGD, Taemin hanya bisa menstabilkan nafasnya. Ia masih shocked dengan sosok yang ia temui tadi, Choi Minho.

 

He was… his high school collague – okay, for some reasons, aku tidak bisa mengatakan bahwa mereka adalah teman baik. Tapi yang membuatnya menjadi sedikit frustasi adalah karena Minho was actually… his high school crush.

 

Right. Right. Right. I know that sounds stupid. Taemin also felt that way.

 

Of all million people in this world… of all thousands people with South Korean citizen… of all hundred doctors… why… why it has to be Minho??? kenapa mereka harus bertemu lagi? LORD OH GOD.

But the shittiest among all is… Taemin tau ketika ia menemui Minho saat ini, ia merasakan hal yang sama seperti 12 tahun yang lalu ketika ia pindah dari Tokyo ke Seoul dan masuk ke kelas yang bersebelahan dengan kelas Minho.

 

“Stop Taemin, stop!!!” Taemin menepuk-nepuk pipinya dengan keras mengingat bagaimana drastisnya perubahan Minho saat ini – but still… he could recognized him easily just from seeing him one second.

I mean… bagaimana bisa anak seculun dia dengan rambut seperti coconut dan kacamata tebal kini menjadi seorang dokter yang… oh god, he is so handsome now, what the hell??? Ini membuat semua semakin tidak mudah bagi Taemin.

 

Ia lalu meletakkan kepalanya di atas meja. Clearly, ia masih mengingat bagaimana ekspresi Minho ketika ia menunjukkan kesan yang keren di hadapannya, sampai suatu hari… Minho menghindarinya. That day… to be honest, adalah hari di mana Taemin merasakan patah hati untuk yang pertama kalinya.

 

.

.

.

 

 

“Umm…”

 

Taemin membuka matanya sedikit. Ia melihat dengan samar wajah Minho dan beberapa buku di hadapannya. well, tidak perlu membuka mata dengan lebar untuk tau bahwa Minho tengah sibuk menata buku agar sinar matahari yang masuk melalui jendela perpustakaan itu tidak mengganggu Taemin yang sedang tertidur – saat itu jam kelas sedang kosong karena ada rapat guru dan beberapa wali murid penyumbang dana di sekolah.

 

Buru-buru Taemin kembali memejamkan matanya. Ia menahan senyumnya mendengar beberapa suara yang sangat Minho usahakan untuk tidak keluar agar tidak mengganggu tidurnya – obviously, Minho tidak tau bahwa Taemin sudah bangun dari tidur siangnya. Dasar bodoh, mana mungkin ada orang yang betah tidur di atas buku begini – fyi, Taemin tadi tertidur ketika ia tengah membaca buku sastra milik siswa lain. Ia adalah siswa transfer, mau tidak mau harus mulai mengejar beberapa materi yang tertinggal.

 

 

It’s all fun and games

 

Ia masih berusaha tidur sambil mengatakan pada dirinya sendiri dalam hati bahwa jantungnya harus berhenti berdetak dengan kencang karena ia tau Minho sedang memandanginya. Yeah, it was several minutes of paradise sampai ia mendengar suara langkah beberapa anak laki-laki mendekat. That was Jiho cs., yang menyuruh Minho untuk membelikan mereka makanan.

 

Taemin bisa mendengar suara Minho yang mengatakan bahwa ia akan membelikan mereka makanan asalkan mereka tidak membuat keributan – ugh yah, ia lebih terdengar memohon dibandingkan dengan mengancam – tetapi Jiho dan teman-temannya malah tertawa meremehkannya. Dan saat itu, ketika Taemin mendengar suara kursi tempat Minho duduk – di sampingnya, ditendang oleh Jiho…

 

 

Oh fuck you, Jiho! Ia merasa menyesal telah meminjam buku sastra ini dari teman Jiho, dan ia bersumpah ia tidak akan menyentuhnya lagi!

 

 

… ia lalu bangun – berpura-pura bangun lebih tepatnya.

 

 

“Yah! Apa kalian sangat suka berisik? Kalian tidak tau kalau ini perpustakaan?”

 

Jiho, laki-laki yang tengah mencengkram kerah baju Minho itu lalu melepaskan laki-laki culun di tangannya. Ia lalu menghadapi Taemin instead.

“Yah, Lee Taemin. Apa kau benar-benar mau berurusan denganku?” ucapnya kesal. “Aku ini menghargaimu sebagai teman tapi kau malah selalu melindungi coconut ini.”

 

Taemin melipat tangannya di dada. Ia lalu menaikkan alisnya. “Oh ya? hey, Choi Minho. apa aku pernah melindungimu? Aku ini sedang tidur dan kalian malah berisik di sini. Aku merasa hakku terganggu, karena kau bahkan tidak menghargai waktu istirahat dari “temanmu” ini,” balas Taemin, berdusta.

 

Jiho mendengus.

 

“Kalau kau lapar dan ingin makan sesuatu, kenapa kau tidak ke kantin saja? Kalian begitu ingin ditraktir?” Taemin bicara, membuat Jiho cs tidak bisa membalasnya. “Tsk tsk tsk. Pathetic. Uang saku ku sehari bahkan lebih banyak dibanding uang jajan kalian sebulan. Ayo pergi ke kantin, aku akan membelikan makanan untuk mulut kalian yang rakus.”

 

 

 

Til someone gets hurt,

And I don’t, I won’t let that be you

 

 

And as expected from Jiho dan kawan-kawan yang mata duitan, mereka pun mengikuti Taemin ke kantin. Dan sejak itu, Minho tidak perlu lagi membelikan mereka makanan karena mereka selalu mengajak Taemin makan di kantin. But yeah, Taemin tidak peduli dengan itu. toh uang jajannya memang banyak, dan biasanya setelah membayar makanan mereka, Taemin akan pergi ke kelas tanpa diusik oleh mereka – dan di situlah, biasanya ia menemukan Minho yang berlalu lalang di koridor untuk mengembalikan buku sejarah setiap hari senin, membersihkan koridor karena piket di hari selasa, membantu siswa ekskul mading untuk memajang mading di hari rabu, sisanya membaca komik yang biasanya ia pinjam di perpustakaan.

 

Ia hanya akan pergi ke kantin ketika kantin sudah cukup sepi, saat Minho pergi ke kantin. Taemin tau alasannya mengapa Minho hanya pergi ke kantin setiap 15 menit sebelum bel masuk berbunyi. Yap, karena saat itu, kursi kantin sudah lenggang dan ia bisa duduk tenang untuk makan. Dan ketika melihat Taemin sedang makan di kantin, Minho biasanya meminta ijin untuk duduk satu meja dengannya dan mereka akan berakhir makan siang bersama.

 

However, itu hanya bertahan satu minggu. Sampai tiba-tiba ia melihat sesuatu yang janggal.

 

 

Suatu pagi, ia melihat wajah Minho lebam, dan pada siang hari Minho masuk ke kantin pada saat jam istirahat sedang ramai. Itu aneh karena biasanya ketika ia dibully, ia hanya akan menyendiri seperti biasa.

 

But, whatever. Ia bisa menanyakannya nanti.

Taemin buru-buru mengambil makanan dan duduk di tempat yang meja dan dua kursi kosong – exactly, saat itu tempat Taemin duduk adalah satu-satunya tempat yang kosong. Laki-laki cantik itu sibuk menyendok supnya sambil menatap Minho dari jarak beberapa meter. Ia bisa melihat laki-laki culun itu tengah bingung mencari kursi kosong.

 

 

One second ketika mata mereka bertemu, Taemin lalu menunjuk kursi kosong di hadapannya, memberi kode bahwa Minho bisa duduk di sana.

 

 

 

Tapi apa yang menjadi jawaban Minho di luar ekspetasi Taemin.

 

Ya. minho tidak meresponnya. Ia justru duduk di tempat lain di mana seseorang baru saja selesai makan di sana, dan itu membuat Taemin heran.

 

Sadly, ia tidak sempat menanyakannya karena Jiho cs sudah datang tiba-tiba untuk meminta traktir.

Dan setelah itu, mereka tidak pernah bicara lagi. Minho bahkan selalu menghindari Taemin dan itu membuat Taemin sedih karenanya.

What an unlucky first love.

 

 

.

.

.

 

 

“Good morning!”

 

 

Taemin tersentak ketika seseorang menyapanya dari belakang.

 

GOD, IT’S CHOI MINHO!

 

 

 

That there might be something real between us two, who knew?

 

Ia menatap Minho yang tersenyum manis, kemudian mengikutinya berjalan di sepanjang koridor. It’s awkward, i know. Tapi Taemin memilih untuk mencoba memposisikan diri dalam keadaan saat ini. okay, they both are doctors here dan setidaknya perlakukan dia seperti dokter-dokter lain, Lee Taemin. Kau hanya perlu ramah sedikit padanya – oh okay, tidak usah ramah, hanya saja mungkin sedikit menyapa.

 

“Hai, morning.” Taemin membalas singkat, lalu mengecek jam tangannya yang menunjukkan pukul 9 pagi.

 

“Kau sudah sarapan?” Minho bertanya, sedikit basa-basi – oh what the hell sejak kapan dia tau bagaimana caranya basa-basi?

 

“Umm ya. aku harus pergi. Bye.”

 

 

Itu adalah kalimat balasan Taemin sebelum akhirnya ia berlari untuk masuk ke lift, mencoba menghindari his probably-forever crush.

 

It’s reckless and clumsy,

 

Dan ketika pintu lift tertutup, ia segera berjongkok – fortunately, saat itu ia sendirian di lift – merasa bodoh dengan sikapnya. Lee Taemin, please…. you’re hopeless!

 

 

Cause I know you can’t love me, hey

 

 

On the other hand, Minho hanya menghela nafasnya. Well, at least ia mengatakan good morning padanya. Ia lalu pergi menuju poli kejiwaan untuk menemui pasiennya.

 

 

 

 

 

 

“Dokter, kau terlambat!”

 

Minho, laki-laki tampan itu tersenyum, kemudian menghampiri gadis yang tengah cemberut dan masih duduk di tempat tidur. Ia lalu bicara pada perawat yang menjaganya sebentar dan setelah memastikan bahwa gadis ini sudah makan pagi dengan baik – meskipun butuh waktu satu jam untuk membuatnya makan, pada akhirnya mereka berhasil.

 

“Oh ya?” Minho mengecek jam tangannya. “Wah, aku terlambat 5 menit. Kau benar,” sambungnya. “Okay, karena kau sudah siap, kita bisa pergi sekarang?”

 

Gadis itu tersenyum lalu mengangguk.

 

 

Mereka lalu berjalan di halaman belakang rumah sakit. Pagi itu cukup sepi, mungkin karena  masih banyak pasien rawat inap yang tertidur, jadi mereka bisa berjalan-jalan dengan santai.

Mereka berbincang bersama setelah beberapa menit mengitari halaman. Minho duduk di kursi, mendengarkan curhatan pasiennya yang mengidap eating disorder tersebut.

 

 

“Hanya dokter laki-laki yang pernah mengatakan aku cantik. Semua orang mengatakan aku gemuk. Model agensi mengatakan aku terlalu gemuk. Bahkan teman-temanku menertawaiku karena beratku di atas 55 kg. Pacarku juga berselingkuh dengan gadis yang lebih kurus dariku.”

 

“Kalau begitu kau seharusnya semangat. Aku ini tidak mudah mengatakan cantik untuk seseorang,” balas Minho.

 

“Tsh. Kau pikir ucapan satu orang bisa mempengaruhi? Apa gunanya kau memujiku jika 1000 orang menghinaku? Kau mungkin merasa biasa saja karena kau tidak pernah merasakan rasanya jadi aku!”

 

Laki-laki itu tertawa. Ia lalu mengacak rambut pasiennya dengan lembut. “Memangnya kau tau darimana? Siapa yang memberitau teori itu padamu?”

 

“Tsch. Kau terlihat seperti itu.”

 

Minho hanya tersenyum. “Dulu waktu aku SMA, aku ini korban pembully-an, asal kau tau saja.”

 

“Huh? kau? Dibully?”

 

Ia mengangguk. “Aku bahkan tidak punya teman semasa remaja. Aku merasa semua orang itu bermuka dua. Tapi ada satu orang yang saat itu membuatku mempunyai tujuan hidup.”

 

Gadis itu mengerjapkan matanya, penasaran.

 

“Dia membuatku ingin menjadi dokter.”

 

“Apa mungkin… dia yang membuatmu ada di sini?”

 

Minho hanya tersenyum, lalu mengangguk. “Aku baru saja menyelesaikan spesialisku 6 bulan lalu dan aku menghabiskan waktu senggangku untuk mencari di mana dia berada. Dan aku menemukannya di rumah sakit ini, jadi aku datang kemari.”

 

 

 

I wish we had another time,

I wish we had another place,

But everything we have is stuck in the moment,

 

 

“Dia siapa? Apa dia pasien di sini?”

 

“Rahasia.”

 

“ISH!” gadis itu melipat tangannya di dada kemudian membiarkan Minho kembali mendorong kursi rodanya untuk kembali ke kamarnya.

 

 

 

And there’s nothing my heart can do

To fight with time and space,

‘Cause I’m still stuck in the moment with you

 

 

 

“Dokter… apa kau sudah bicara dengan orang itu?” gadis itu membuka pembicaraan setelah ia kembali ke kamarnya.

 

“Yap, tapi dia bilang dia tidak ingat padaku. Itu mungkin membutuhkan waktu untuk mengingatku,” balas Minho, seraya membantu gadis itu turun dari kursi rodanya dan duduk di tempat tidurnya.

 

“Bohong.”

 

Minho mengernyitkan alisnya. apa ia baru saja menuduh seseorang berbohong?

 

Dia pasti berbohong. Bagaimana bisa melupakan orang yang dibully? Teman-teman TK ku saja masih ingat aku karena aku selalu diejek gendut. Semua orang tau itu, dan tidak mungkin akan terlupakan.”

 

Terdiam sejenak, Minho kemudian tersenyum. “Istirahat. Aku harus menemui pasien lain.”

Ia lalu berjalan keluar dari ruangan pasiennya dan menuju kantin. Mungkin ia butuh sedikit kafein sebelum menemui pasien. But… yeah, apparently, tanpa sadar kakinya melalui koridor UGD.

 

 

As what usually happened there, UGD saat itu ramai dengan pasien yang masuk karena kecelakaan, hampir melahirkan, pingsan di tengah jalan, dan lainnya. Minho diam sejenak, menyapa staff administrasi sebentar dan memperhatikan bagaimana profesinya menangani pasien yang tengah di ambang hidup dan mati.

 

Lalu ia melihat seseorang yang tengah berlari menuju meja administrasi – yeah, the person who always be the one in his dream, Lee Taemin.

 

“Soora-ssi, tolong hubungi keluarga pasien Jung Eunsoon. Dia dalam keadaan hamil, dan pingsan. Keluarganya harus di sini karena Ny. Jung harus segera melakukan operasi sesar,” ucap Taemin cepat.

 

“Code blue, code blue…”

 

Taemin segera menyambar form pasien yang barusan ia ambil ketika mendengar code blue – he’s the leader in this team so he needs to go faster. Ia begitu buru-buru sampai ia menubruk bahu Minho – yang sedari tadi berada di sampingnya – dan…

 

 

 

“Kau tidak apa-apa?”

 

 

Ia hampir terjatuh. Well, hampir, sampai Minho dengan tanggap menahan tubuhnya.

 

Menoleh, ia cukup terkejut karena ia tidak tau sejak kapan Minho ada di situ dan apa yang ia lakukan? Okay, but he’ll save this for later karena saat ini ia harus menangani pasien yang nyawanya harus di selamatkan dalam waktu 5-10 menit ke depan.

Jadi ia hanya mengangguk, kemudian kembali berlari menuju ruangan operasi.

 

Melihatnya terburu-buru seperti itu, Minho hanya tersenyum. Ia memiringkan kepalanya sebentar kemudian kembali berjalan menuju kantin untuk membeli kopi. Rasanya seperti deja-vu pada keadaan dulu ketika mereka berada di klinik kesehatan sekolah. But this time, Taemin telah menjadi dokter yang keren.

 

 

Now we don’t wanna fall but,

We’re tripping in our hearts and,

 

 

 

===

 

“Hhhh…”

Taemin menghela nafasnya, menatap langit yang mulai gelap. Ia berada di rooftop dan itu adalah satu-satunya tempat di mana ia benar-benar beristirahat dari pekerjaannya.

Ia mengambil gelas berisi air di sampingnya, dan hendak untuk menenggaknya, tetapi isinya sudah habis. Mengumpat kecil, ia lalu membiarkan gelas kosong tadi diam di sampingnya, kemudian memejamkan matanya, menghirup angin segar.

 

“Kau sudah makan?”

 

Huh? taemin menoleh, lalu menemukan Minho berjalan ke arahnya hingga ia mengambil duduk di sampingnya.

 

Berdehem, Taemin hanya mengangguk. Now what? Ugh. Ia kembali merasa ingin escape. Seriously, apa tidak ada sesuatu yang gawat darurat agar ia bisa kabur dari Minho?

God, Lee Taemin. Kau baru saja lega karena mendapat waktu istirahat dan kau sudah ingin ada kondisi gawat darurat lagi? Tsk. Dalam hatinya ia cukup menyesal karena seharusnya ia memilih pulang saja dibandingkan dengan istirahat sejenak di sini.

Ia tidak sempat berfikir lebih jauh bagaimana caranya untuk menyudahi pertemuan mereka, karena Minho menyodorkan air minum untuknya.

 

“Thanks…” ucap Taemin, mengambil botol tersebut dan meminumnya.

 

“Ngomong-ngomong…” Minho membuka pembicaraan. “Akhirnya aku bisa mengatakannya. Tadi kau benar-benar keren, dr. Lee.”

 

Taemin menelan airnya. Ia masih ingat dengan pembicaraan mereka dulu – bagaimana ia mengatakan pada Minho ia bisa memanggilnya dokter setelah beberapa tahun lagi, and that time is now.

 

 

“Kau tidak sibuk? aku tidak tau kalau psikiater bisa berjalan-jalan ke UGD,” timpal Taemin. Again, ia ingin memotong lidahnya sendiri. bagaimana bisa ia mengatakan hal yang tidak manis to his crush? Like ????? ( >___> )

 

But, hey… he’s Choi Minho. ia hanya tertawa kecil, dan itu sangat manis karena Taemin yakin wajahnya mulai memanas mendengar kekehan itu – ia tidak yakin bahwa ia pernah mendengar suara Minho tertawa?

 

“Aku sibuk siang ini. pasienku mengamuk dan mencakarku karena ia tidak mau suntik.”

 

Taemin suddenly goes to O___O expression. Ia menoleh dan memiringkan kepalanya, mencoba mencari bekas cakaran di wajah Minho, but all he found was Minho’s side profile structure which is… flawless – i mean, there’s no scar over there. Apa mungkin di wajah bagian kanannya?

 

Well, the admiring-Minho’s-face session came to an end ketika Minho menoleh dan menemukannya sedang memandanginya. Segera, Taemin mengalihkan wajahnya.

 

 

 

Silence.

 

God, this is so awkward!

 

 

“Aku… pergi dulu.” Taemin akhirnya bicara setelah beberapa menit mereka berdiaman. Dan seperti biasanya, ia hanya akan bangun dari duduknya dan pergi begitu saja.

 

But… unlike any other day ketika ia bisa menghindar, kali ini Minho menahannya. Ia memegang tangan Taemin so the pretty boy couldn’t escape from him.

 

“Aku tidak seperti dulu lagi, Taemin. Aku tidak lagi menjadi pengecut, dan aku bisa mempunyai teman…” Minho bicara. “Apa aku masih tidak pantas untuk mengenalmu?”

 

Jantung Taemin berdebar dengan sangat cepat ketika ia mendengar ucapan Minho yang straight to the point – ugh, Lord please, ia pikir saat ini ia hampir mengalami cardiac arrest.

 

“Apa kau… benar-benar melupakanku?”

 

 

 

Now you don’t wanna let go,

And I don’t wanna let you know

 

 

Mendengar itu, Taemin lalu melepas nafasnya pelan. Ia lalu menoleh, menatap Minho yang tengah menatapnya. Itu benar, kali ini ia tidak seperti ketakutan saat menatap orang lain. Jadi, Taemin hanya menjawabnya,

“kau yang pergi begitu saja dari hadapanku. Kalau kau begitu percaya diri dengan dirimu yang sekarang dan tidak suka dengan dirimu yang dulu, kenapa pura-pura mengenalku? Kau bisa saja berkenalan denganku dalam kondisi saat ini dan hal-hal di masa sekolah akan terlupakan.”

 

Minho mengernyitkan alisnya. ia tampak heran. “Taemin, aku tidak pernah pergi begitu saja –“

 

 

 

See like Adam and Eve,

 

“You did, Minho. you did!” balas Taemin, kemudian melepas tangannya dari genggaman tangan Minho dengan paksa. Ia lalu memejamkan matanya sesaat, kemudian mengalihkan pandangannya. “Okay, aku benci mengingat-ngingat masa lalu yang tidak menyenangkan, tapi apa kau begitu naif sampai kau lupa bagaimana kau tiba-tiba membuat jarak denganku?”

 

Tragedy was our destiny,

 

Laki-laki yang lebih tinggi itu hanya diam. clearly, ia masih ingin mendengar Taemin menjelaskan lebih rinci.

 

“Aku masih ingat. Itu hari Senin. Kau tidak mengantarkan buku sejarah ke ruangan Mr. Lee, kau pergi ke kantin saat ramai. Aku menunggumu duduk di depanku saat itu tapi kau tidak sedikitpun melangkah. Keesokan harinya, kau tidak piket. Keesokan harinya, kau tidak memasang mading, keesokan harinya, kau membaca komik di tempat lain. Dan seperti itu seterusnya! Kau sengaja menghindariku, karena kau bahkan tidak mau melewati koridor depan kelasku.” Taemin bicara, dan itu sukses membuat Minho diam. sepertinya ia terkejut ketika mendengar bagaimana sebenarnya Taemin paham dengan kebiasaannya.

 

 

Ugh, whatever.

 

 

 

“Aku pergi dulu.”

 

“TAEMIN!”

 

 

Dan Taemin berlalu begitu saja, sama seperti waktu-waktu sebelumnya.

 

 

 

Like Sonny and Cher,

I don’t care, I’ve got you baby.

 

 

Being left alone there, Minho hanya diam. ia masih tidak percaya dengan apa yang Taemin katakan but… semua itu benar. hanya saja… there’s something that missing there.

 

 

 

See we both fighting every inch of our fiber,

Cause ain’t no way it’s gonna end right but,

We are both too foolish to stop.

 

.

.

.

 

 

“Hey, hati-hati!”

 

Minho, laki-laki berkacamata itu mengangguk sambil membawa tumpukan buku. Ia hampir saja menabrak beberapa siswa yang sedang berlalu lalang di koridor. Well, itu bukan karena ia berjalan sembarangan, hanya saja, matanya melirik ke kelas XII-1. Ia melihat ada seorang siswa laki-laki yang tidak familiar di matanya. Siapa dia? Ia mengernyitkan alisnya mengingat-ngingat, tetapi kemudian anak laki-laki itu tidak sengaja menoleh, dan buru-buru ia mengalihkan pandangannya.

 

Astaga! Jangan katakan dia tertangkap basah! Minho pikir anak itu tidak punya teman seperti dirinya – karena ia melihatnya sedang duduk sendirian sambil membaca buku di kelas sementara siswa lain pergi ke kantin.

 

 

Hari berikutnya, adalah hari di mana ia piket. Dan seperti biasa, regu piket lain tidak ada yang mau membantunya. Mereka hanya mau mengganti air akuarium dan menghapus papan tulis. Pekerjaan yang berat biasanya diserahkan pada Minho, seperti; mengepel lantai koridor dan mengumpulkan sampah yang berserakan di sekitar.

 

Waktu yang baik untuk mengepel adalah memang saat istirahat, karena jarang sekali siswa yang berada di sekitar ketika jam itu. mereka lebih memilih makan siang di kantin atau berolahraga di lapangan. Biasanya, Minho hanya bisa melihat dari kejauhan dan iri betapa menyenangkannya bermain bola dan basket bersama teman-temannya – tapi karena tidak ada anak yang mau bermain dengannya, rasanya percuma kalau dia ikut.

 

But that time was different. Minho kembali melihat sosok unfamiliar kemarin – yang sekarang menjadi familiar di matanya, berada di kelas. Anak laki-laki itu sedang membaca. Mengedipkan matanya dua kali, Minho mulai berspekulasi. Dia pasti anak yang pintar. Apa mereka akan menjadi saingan untuk merebut rangking umum angkatan?

 

 

Keesokan harinya, Minho memasang mading di dekat kelas XII-1. Lagi-lagi waktu yang paling baik adalah waktu istirahat. Again, ia mengintip isi kelas XII-1 dan ia tidak menemukan anak itu? heol? Apa dia tidak masuk sekolah? Ia hampir menerka-nerka sampai saat ia tiba-tiba melihat anak itu berjalan di koridor menuju kelasnya. Saat itu, mereka berpapasan dan Minho bisa melihat name tag nya.

 

Lee Taemin.

 

 

Hari selanjutnya, Minho membaca komik di dekat jendela sebrang kelas XII-1. Ia suka membaca komik di situ karena ia bisa sambil melihat siswa lain yang sedang bermain bola di lapangan. But again, pikirannya kembali menyuruhnya berputar untuk menatap Lee Taemin, siswa kelas XII-1. And there he is, sedang bermain rubik. Ia pikir, mungkin ini saat yang bagus untuk punya teman. But then, harapannya pupus ketika melihat salah seorang siswa masuk kelas dan mengajak Taemin bicara. Mereka lalu bercengkrama dan Minho pada akhirnya memutuskan untuk kembali larut dalam komiknya.

 

 

Tanpa ia pernah tau… bahwa Taemin pun memperhatikan kebiasaannya.

 

 

 

Now you don’t wanna let go,

And I don’t wanna let you know

 

 

.

.

.

 

“Kau dapat undangan rapat komite medis?”

 

Taemin menoleh, mendengar kalimat dari Key, salah satu dokter UGD yang satu ruangan dengannya. Ia lalu melanjutkan membaca jurnal di komputer dan menggeleng.

 

“Tsch. Kau tidak mengecek lokermu? Mereka mengirimkan semuanya melalui loker!” balas Key.

 

“Benarkah? Oke, aku akan cek nanti,” balas Taemin.

 

“Rapatnya besok, jadi ceklah hari ini, oke? Aku pulang dulu ya.”

 

Taemin lalu melihat jam tangannya. Ugh, ini sudah pukul 10 malam. Dokter shift malam pun sudah bertugas. Ia seharusnya pulang sekarang karena besok ia harus masuk pagi untuk rapat dilanjutkan dengan shift malam.

 

Dengan segeraa, ia lalu mematikan komputernya dan berjalan menuju lokernya untuk mengganti pakaian. Uh okay, ia juga menemukan beberapa amplop yang mampir di lokernya.

 

Benar saja, ada undangan komite besok, lalu kartu pos dari dr. Won yang baru saja kembali dari Italy – ia memberi oleh-oleh kartu pos, dan… amplop kecil yang tidak jelas dari siapa. Wait. Apa ini?

 

Mengernyitkan alisnya, Taemin lalu membuka amplop tadi dan ia menemukan two things inside.

 

 

Pertama, itu adalah origami berbentuk burung – sepertinya sudah lama sekali karena lipatannya sudah kusut – dan ketika ia membuka lipatan origami tadi, ia terkejut.

 

Ada tulisan Minho di sana.

 

 

 

‘Calon dokter yang keren, ada yang ingin kukatakan di rooftop, hari senin minggu depan setelah sekolah berakhir.’

 

Minho lalu menggambar stetoskop di samping tulisannya.

 

 

Kedua, itu adalah… surat? Tanpa berpikir dua kali, Taemin membukanya. Wait, ini bukan surat. Tapi ini adalah salah satu bagian dari diary Minho ketika ia masih di bangku sekolah. Taemin membacanya, dan itu menjelaskan apa sebenarnya tembok di antara mereka berdua selama ini.

 

That there might be something real between us two, who knew?

Now we don’t wanna fall but,

We’re tripping in our hearts and,

 

 

 

.

.

.

 

“… ayo pergi ke kantin, aku akan membelikan makanan untuk mulut kalian yang rakus.”

 

Minho diam, memperhatikan Taemin yang keluar dari perpustakaan diikuti oleh Jiho cs. Lagi-lagi ia tidak jadi dipukul karena Taemin. Well, ia harus berterima kasih padanya lain kali. dan mungkin… dia memang perlu mengatakan hal lain yang perlu ia sampaikan.

 

Ia lalu meminta beberapa lembar kertas dengan alasan sebagai pembatas buku dan catatan resume, tetapi mereka tidak memberikan untuk yang pemakaiannya tidak jelas. namun, salah satu petugas menawarkannya menggunakan origami yang tidak terpakai di sana. Minho pun menyetujuinya.

 

Ia menulis,

 

‘Taemin, terima kasih sudah menolongku’

 

Lalu meremasnya karena ia tau Taemin akan menjawab, ‘aku tidak menolongmu. Mereka hanya mengganggu tidurku.’ Dan ia tidak mungkin memberi penjelasan untuk menyanggahnya.

 

Kemudian ia menulis,

 

‘Kau benar-benar keren tadi’

 

Kemudian ia kembali meremasnya karena tidak hanya itu yang ia ingin sampaikan.

 

Lalu ia mencoba,

 

‘Taemin, aku benar-benar menyukaimu’

 

 

 

Ugh no! Lagi, Minho meremas kertas tadi. Dasar bodoh. Itu terlihat aneh kalau kau mengatakannya melalui origami -___-

Ia diam sejenak menatap origami berwarna biru laut di hadapannya. lama ia berfikir, bagaimana cara menyampaikan beberapa hal yang ingin ia katakan dalam tulisan. But… oh? Mungkin… mungkin ia seharusnya mengatakannya secara langsung daripada menulis?

 

Right, Minho. kau harus mengumpulkan keberanianmu sedikit demi sedikit. Gunakan beberapa hari ke depan untuk mempersiapkan diri sebelum akhirnya bicara padanya. So, pada akhirnya ia memutuskan untuk menulis,

 

‘Calon dokter yang keren, ada yang ingin kukatakan di rooftop, hari senin minggu depan setelah sekolah berakhir.’

 

 

 

That’s enough. And hari senin minggu depan, ia akan mengatakannya pada Taemin. Mengatakan semua kalimat di origami yang tidak bisa ia ucapkan secara tulisan – true, his feeling is included in it.

Ia lalu melipat origami menjadi burung dan meletakkannya sebagai pembatas di buku sastra yang Taemin baca di perpustakaan tadi, kemudian berjalan ke kelas XII-1, kemudian meletakkan buku tersebut di kolong meja Taemin.

 

 

 

Then just it.

 

Taemin tidak pernah membahas ‘apa yang mau kau bicarakan?’ etc setelah Minho menaruh bukunya, dan ia sedikit bersyukur karenanya. Mungkin Taemin memang ingin mendengarnya hari senin, pikir Minho.

 

 

But unexpectedly, ketika ia sudah well-prepared, menunggu di rooftop, kenyataan pahit datang ke arahnya. There’s this guy who came, tapi dia bukan Taemin, melainkan Jiho.

 

 

“Hey culun! Apa propagandamu selama ini untuk Taemin, ha? Kau pikir hanya karena ia membelamu di hadapanku dia mau berteman denganmu?” ejek laki-laki gendut itu.

 

Minho hanya diam. ia masih tidak mengerti mengapa bisa Jiho mendapatinya di sini – ini bukan tempat yang sering Minho kunjungi, tbh.

 

Dan seolah mengerti ekspresi bingung Minho, Jiho lalu bicara, “Taemin memberikan ini padaku. Dia bilang untuk mengatakan padamu bahwa ia tidak mau menemuimu dan tidak mau berteman denganmu.” Jiho melempar origami itu ke hadapan Minho dan menginjaknya sambil tertawa mengejek. “Yah, coconut! Kau ini benar-benar tidak tau diri ya? kau tau tidak siapa Lee Taemin itu? dia adalah anak yang paling kaya di sekolah ini. selama ini ia membelamu karena ia tidak mau citranya buruk sebagai siswa. Coba kau pikir. Apa ini tidak aneh kalau ia simpati padamu tapi dia masih berteman dengan kami?

 

 

 

Seketika Minho kaget. Ia hanya bisa diam. bagaimanapun, kalimat Jiho bukannya tidak masuk akal juga.

 

Tanpa membiarkan Minho mengeluarkan suara, Jiho lalu menarik kerah seragamnya dan membalikkan tubuh Minho menghadap pintu gerbang sekolah. “Lihat. Itu Taemin. Dan kau lihat? Dia pergi bersama Dongil, temanku.”

 

Minho hanya bisa menelan ludahnya saat melihat Dongil merangkul pundak Taemin dan mereka menuju pintu gerbang sekolah untuk keluar dari sana.

 

 

It’s reckless and clumsy,

And I know you can’t love me, hey

 

 

 

Kalau dia memang ingin mendengar apa yang ingin kau sampaikan, dia pasti sudah ada di sini sekarang. Bukannya menyuruhku memberikan origami sialan ini padamu dan pergi bersama Dongil. Haish. Dasar tidak tau diri. Lihat dulu levelmu sebelum kau ingin mendekat dengannya. Kau tau?!”

 

 

Well yeah, Minho tidak berdaya saat itu. setelah mendapat satu pukulan dari Jiho, ia hanya bisa memungut origami yang jatuh dan kotor tadi, mengusapnya, dan melipatnya kembali. Lama ia terdiam melihat origami yang awalnya sudah ia lipat dengan rapi, tetapi ini semua sia-sia.

 

Mungkin… mungkin… persiapannya memang masih belum cukup untuk bicara pada Taemin. Ia harus bisa lebih dari sekedar origami. Pikirnya, Jiho tidak salah. Mana mungkin Taemin mau bergaul dengan anak seperti dia sementara siswa lain saja tidak ada yang tertarik untuk mengenalnya.

 

Ia menghela nafasnya sambil menyeka darah yang perih di ujung bibirnya setelah lama menangis. Ugh, bau darah…

 

Terdiam sejenak, Minho akhirnya membulatkan tekadnya: “Kelak, aku akan menjadi seorang dokter, dan aku akan bicara pada Taemin saat itu.”

 

 

 

I wish we had another time,

I wish we had another place,

But everything we have is stuck in the moment,

And there’s nothing my heart can do,

To fight with time and space,

Cause I’m still stuck in the moment with you

 

 

 

.

.

.

 

 

Taemin terduduk di lantai yang dingin saat membaca isi diary Minho. Ya Tuhan… jadi… jadi dia menghindar karena ini? tiba-tiba segalanya make sense. Mengapa Minho menjaga jarak dengan Taemin, membuat defense darinya, dan membuatnya patah hati….

 

 

 

… it’s all because a misunderstand.

 

 

See like just because this cold, cruel world

Saying we can’t be,

 

Laki-laki cantik itu lalu segera berlari keluar dari ruang loker menuju poli kejiwaan. Ia melirik ruangan para dokter dan Minho tidak ada di sana. Ugh, shit! Ia tidak tau kapan shift Minho hari ini. berjalan menuju ruang rawat inap, ia tidak menemukan dokter yang tengah visite – right, visite malam biasanya berjalan mulai pukul 11 malam.

 

So… where is he?

 

 

 

 

Baby, we both have the right to disagree,

And I ain’t with it.

 

Oh, wait.

 

Taemin lalu melihat origami kusut di tangannya. Mengerjapkan matanya sekali, ia ingat… ini… hari Senin.

 

 

But convention’s telling us to let go

So we’ll never know

 

 

Jadi ia berlari menuju rooftop….

 

 

 

 

 

… dan menemukan Minho menunggunya di sana – well, not sure if he waits for Taemin or not, but it’s him.

 

Melangkah dengan gemetar, Taemin mulai mendekat dengan sosok yang tengah menatap gedung pencakar langit lain di hadapannya.

“Min… Minho…” panggilnya pelan.

 

Laki-laki tinggi itu menoleh, mendapati Taemin berdiri di hadapannya, membawa lembaran dan satu origami kecil di tangan mungilnya. Minho tersenyum, ia tau pada akhirnya Taemin tau alasannya.

 

 

And I don’t wanna be so old and gray,

Reminiscing about these better days,

 

 

 

“Jiho… dia berbohong…” Taemin bicara, membuat Minho mengernyitkan alisnya. benar rupanya. Minho juga salah paham tentang dirinya selama ini.

“Aku tidak pernah menerima pesanmu, karena kau menyelipkannya di buku milik Dongil. Aku pikir buku itu bisa ada di laciku karena Dongil yang menaruhnya, jadi langsung aku kembalikan padanya ketika aku melihatnya…” ucap Taemin. “Aku… tidak tau… kau menulis pesan di sana.”

 

 

I wish we had another time,

I wish we had another place,

Cause everything we did,

And everything we have is stuck in the moment

 

Minho hanya bisa terdiam karena ia kaget ketika melihat ekspresi sedih tercetak di wajah Taemin. Beberapa hari yang lalu ia pikir Taemin yang salah paham padanya, tetapi ternyata, ia juga telah salah menilai Taemin.

 

Karena sesungguhnya, Taemin tidak peduli apakah Minho menganggap dirinya layak atau tidak untuknya. Dan juga sesungguhnya, Minho tidak pernah sengaja menjauh dari Taemin tanpa alasan.

For this long time, mereka selalu terjebak di suatu masa di mana mereka saling memendam perasaan masing-masing, bagaimanapun waktu dan ruang sudah berbeda.

 

 

 

I wish we had another time,

I wish we had another place,

But everything we have is stuck in the moment,

 

Mereka bisa saja kembali ke keadaan lama di mana tidak ada satupun di antara mereka melakukan penjelasan, but… Minho tidak ingin itu terjadi. Clearly, Taemin pun berharap bukan itu yang terjadi.

 

 

 

And there’s nothing my heart can do

To fight with time and space

 

 

So, ia melangkah maju, mendekat pada Taemin yang berdiri dengan kaku di hadapannya.

It has been 12 years – sounds too late, but one thing for sure…

 

 

It’s not that they are not meant to be each other, it’s just… their fate has been postponed, until today.

 

Minho lalu menangkup wajah Taemin dengan kedua tangannya, tersenyum menatap laki-laki yang ia tau persis sedang jatuh cinta padanya. Years ago or now, he’s still the person he’s wishing for.

 

In their white breathe, pale cheek, rooftop as the space, at this time…

 

 

 

“I love you.”

 

 

 

… they kissed.

 

 

 

 

I’m still stuck in the moment with you

 

 

 

 

 

 

 

 

END.

 

 

 

MAAF ENDINGNYA CRACK GINI ASTAGA T____T

 

 

 

Love is A Losing Game – 2Min [Oneshoot]

HI!!!

This is me, flamingaze

 

 

 

HAPPY 2MIN DAY HAHAH SURPRISE BITCH I JUST FINNISHED THIS IN TWO HOURS (so that’s why it’s bullshit)

Before you read the fic, PLEASE READ THIS:

  1. This fics is a very sensitive issue and a very sensitive content. I have never thought that I would really post this type of story but, I’m trying to improve my quality of story so… yeah.
  2. I’m not a Chiristian nor Catholic, everything about bible i wrote was based on self-education and from conversation I had with my friend.
  3. I’m not expert in English, so if you find some unproper grammar/words, I’m sorry 😦

This fics was actually made because I was requested by my friend, Ika. I planned to make it private between me and her but since it didn’t turn out to be like what we discussed, i think it’s nevermind if I posted it publicly.

So… here here here we go!

 

 

 

Love is a Losing Game

Author: flamingaze

Genre: you’ll see soon, I can’t name it LOL

Cast: 2min, Jonghyun, OC

 

 

BGM: Amy Winehouse – Love is a losing game / tbh, I listened to the cover by Troye, because the vibe is more mellow, click here for Troye’s version : Troye Sivan – Love is a Losing Game (Cover)

 

 

 

Love is a losing game

 

===

 

For you I was a flame

Love is a losing game

Five story fire as you came

Love is a losing game

 

 

I have never loved you romantically. Not once. If you found myself being indifferent with you – unlike any other of my friends, know that, Minho. know that I just thought that you are a good guy as a friend, or relative, but not more than that.”

 

Minho, the taller man, looked into the other side and he stared at the person who just has rejected him in disbelief. That rejection sounded more like denial after some stories made up in the head, so he said something to responded. “But, Taemin –“

 

We both are male.” Taemin added to stopped Minho from talking. “Relationship between male is not working, Minho.”

 

Minho laughed bitterly. “I have never known that you’re a homophobia Taemin.”

 

“I’m a Catholic, Minho. It’s –“

 

“God forbids?”

 

“Yes.” Taemin answered, boldly.

 

“So God forbids you to have a relationship with a man but He allows you to have sex with a man. I call bullshit.”

 

Taemin glenched his teeth. He wanted to defend himself but he couldn’t. God is right and Minho’s statement isn’t wrong either – in the context of what they have done together before.

 

 

One I wish I never played

Oh what a mess we made

 

 

 

I’d tell you some glimpse of their complicated relationship.

 

They have been known each other for six years and closed to each other – they are so close to the point that you can see how their more-than-just-a-friend- but- not-lovers bond with a pair of blind eyes. They kissing, touching, loving, but there were never a “would you be mine” sentence. Not until now when Minho finally stated it – he thought it wouldn’t be surprise for both of them but actually, it IS a surprise for Taemin. Clearly, he didn’t predict that Minho would ask him to drown into a relationship before. Not after the mess they have made.

 

In another perspective, Taemin was a really religious guy, unlike Minho who didn’t give a fuck with God’s existence. Even though he knew that God forbids the abnormal sex as the bible said “… that they did immoral, man with man, and because of that they will accept equitable reprisal for their digression… (Roma 1:26-32)”, but, no matter what, a lust is really something to human. He couldn’t help but understand that it’s a human nature. Unfortunately, he only got the lust to a man – specifically, named Choi Minho, his “best friend” for years. Minho is irresistible – even a realigious man like Taemin can’t help. However, knowing that he has a lot of sin with this man, Taemin thought that he shouldn’t went too far – he didn’t want to make their relationship became official, because if they do, it means that he didn’t try to follow God’s rules. Okay, fair, he was wrong because he had a thing with a man, but he’s always asking God to help him and for now, the only thing he could do for preventing ‘bad things’ happen in the future is refusing Minho.

 

“I can’t, Minho. i can’t let us become boyfriends. From religion’s point of view, from society’s perspective… it’s so wrong.”

 

Minho sighed. “You know what Taemin? I don’t care with society or –“

 

“Well, I CARE.”

 

“Right. You care. You seem so.”

 

“Minho I’m…” Taemin let out a breathe. “Oh my god. I can’t say I’m sorry, because it is the right thing.”

 

Minho frowned. “Right thing? You mean… do you regret of all things happened between us before?”

 

The younger boy nodded heavily. “Perhaps… yes.”

 

“Okay.” Minho said, trying to control his emotional episode. “Let’s… stop here. Thank… you… for being honest – at least now is better than tomorrow.”

 

“Minho…”

 

“Things are going to be different, right?”

 

 

Blinking his eyes once, Taemin looked at Minho in confuse.

 

“I mean… let’s stop seeing each other, talking to each other, and other things.” Minho suggested.

 

And it seemed that Taemin was unhappy hearing that. “Minho, we can stop doing things that forbidden to do but I don’t want us to be not friends. I mean we can still hang out together somewhere, watching boring sports or cycling around the park, and…” he paused as he saw Minho hissed.

 

“I can’t do that, Taemin.”

 

????

 

“Why can’t you? I mean, it’s only basic things, and it’s not like we’re going to make an extreme physical contact or something?!”

 

Again, Minho sighed. “Can you stop… being self-centred?” Minho said, bluntly, making the younger boy startled. “It’s not basic for me. I can’t…” Minho paused in a second, until he finally continued, “… I can’t look at you without falling in love with you.”

 

Taemin’s heart throbbed when he heard that sentence from Minho. he barely knew if it’s because of pain hearing Minho didn’t want to see him again or it’s a happiness because he supposed to be free from gay-things after they cleared their complicated relationship – you know, he always felt guilty everytime they finnished their making love session. Minho has a perfect body he always wanted to hook up with, but it’s always tasted like a sin when Minho left and let his brain proceed everything they have done before.

 

And now the final frame

 

 

But anyway, that’s how they stopped everything.

 

Love is a losing game

 

 

 

 

 

 

===

 

His pair of of beautiful eyes were staring t the crowd in front of him. He heard a noise clap, his name was chanted by the crowd, and the green aqua stick held by the people dominating the room even though the light was on.

 

“Lee Taemin! Lee Taemin!! Lee Taemin!!!”

 

He held his chest which felt so heavy hearing how people call his name as he finnished the last song he played on his concert – as a singer and performancer, there’s nothing that could make your heart swelling other than looking at the room filled by your fans who calling your name, and singing back when you sang.

 

“Thank you. Thank you!” Taemin bowed, and after that he looked at the crowd again, feeling a moment for himself.

He was so happy. He was overwhelmedly happy.

 

 

 

But then he caught a man he’s familiar with in the crowd.

 

 

 

There…. there…

 

Choi Minho.

 

 

He freezed at the moment. He’s never predicted that the man who lived in his heart in the past – who’s actually still being the man of his dream – came to see him? Little did he know that he would see that face again, after three years apart.

 

Among all thousand people in a room; his eyes were still staring at him only.

 

 

 

Played out by the band

Love is a losing hand

 

As if his life in last three years was a metaphor of the grief sea, when he was trying to evaporated his love to this man in every air he breathed; now, Minho came, showed himself in front of Taemin’s beautiful eyes, ruined all the effort that he built.

 

Their eyes met, and for the first time after million times he denied; Taemin fell in love – again.

 

 

More than I could stand

 

 

But then in an instant time after, his heart was broken, as he saw Minho stopped staring at him and talked to a pretty boy beside him. And then that pretty boy kissed him slightly.

 

Right. He kissed Minho, and Minho smiled to him. It was the same smile with few years ago when they – Minho and Taemin, kissed. no one needs to explain; Taaemin himself also knew, that Minho has moving on from him.

That he’s actually the one who left behind. In the middle of people who love him in any other way, Taemin felt empty. How ironic.

 

 

 

Love is a losing hand

 

 

 

 

 

In a room, Taemin pushed himself. He sang, he fixed the bad lyric, he danced. He practically doing anything to express his heart and he fucking didn’t care the warning people made because he’s using the practice room for himself; more than 2 hours, whereas it supposed to used by any other artist. Swearing to some people who tried to knocked him out for the room, Taemin knew that it’s actually worked. People left him, and it’s really good because all he needs is to be alone.

 

 

 

Self professed… profound

 

 

 

Alone.

 

He hates to admit it, but he felt empty. He wished he could die or whatever because this scar in his heart from everything in the past now gives him pain more than before.

 

“Fuck.” Taemin swore. He sat in front of big mirror, looking at his sweaty face. Letting out the breathe because he was so tired, he saw that his eyes started to teary.

He laid down and looked at the ceiling as he cried in silence. Some memories from years ago began to come, and it’s really hard to positioned himself back into that time because when he was younger than today, he didn’t know what would it feel if he’s giving up into God – it’s a very tough journey; and still a tough one.

 

 

 

Till the chips were down

 

 

“God, do You help me? Do You hear me?” he asked, talking to himself – barely – in a devastated tone. “If You are… then why do I feel so vulnerable?” he then closed his eyes, giving a wistful thought space to talked to his heart.

 

Afterall, everything about his feeling to Minho is an elusive concept; he wished he could have the man to be with him but he also didn’t want to displease God.

 

Nevertheless, every decision he made would give an impact. He chose God over a human he loves with all of his heart – silently, and as the consequence, he had to let him to be with any other person who could accept him, who could love him unconditionally. And knowing that person wasn’t him, Taemin’s heart basically has torned.

 

 

…know you’re a gambling man

 

 

And frankly, he could still in love with Minho. How could this happened? It’s something he wonders why too.

 

Love is a losing hand

 

 

 

 

===

 

 

Days passed.

 

It’s two weeks after the concert day finnished and the company was sending Taemin a protest sign about how he behaves lately. He over practiced – that he didn’t let anyone interrupted him including any artist who needed the room – then he tried making a song but the song was “too depressed” and “soul-less”, and he asked his friends to drink some beer but no one could help him to got out of his miserable-phase.

 

 

 

“We need to talk.”

 

With a heavy light, Taemin then followed his manager, Kim Jonghyun. They got into Taemin’s apartement and sat in the living room. Truthfully, Taemin knew what’s Jonghyun wanted to talk about, and he didn’t denied everything. Because yes, what he did were all shitty.

 

“What’s your problem, Taemin?” Jonghyun asked.

 

Taemin shook his head. “No. I know I was stupid recently, and I’m sorry, okay?”

 

Did I ask you to sorry? I asked, what’s your problem.” Jonghyun said.

 

“Nothing.” Taemin shook his head slowly, as he lowering his head. “It’s so… stupid. It really is.”

 

“Okay, if you don’t want to talk about it. But, know this one thing, Taemin. I’m here to listen to you, not to judge you or something. Because the way I see you recently, you look so pathetic, and it’s not good not only for your career, but also for your life.” Jonghyun responded.

 

 

 

Silence.

 

For couple minutes, Taemin only could stare at Jonghyun. Could he help? Or maybe God helped him through Jonghyun? Who knows.

 

 

Though I battle blind

 

 

I’m… in love, Jonghyun.” Taemin spoke. Jonghyun could see that the pretty boy looked so down while talking about love, he could guess that it’s a not-working love story.

 

 

Love is a fate resigned

 

I’m in love with the person I was in love with.” He said again. “But this person is a man,” he said in crack voice because he was crying – sad and embarassed became one.

 

No words from Jonghyun. He was in shocked that a religious person like Taemin was actually… a gay?

 

“I refused him before because I was too afraid of the relationship. I was so scared, Jonghyun…. it’s so scary… so I thought…” Taemin stopped in a while, he sobbed and tried to stabilize his tone voice. “… I thought it’d be better to be broken hearted for a while and move on, rather than kept loving but haunted by my insecurities about things I believe – God, my religion…”

 

 

Memories mar my mind

 

Jonghyun still in silence, but now he took a move to sit closer by Taemin, giving him tissue to wiped his tears.

 

“It’s been three years. I thought I’m okay now, until I spotted him… in my concert. And suddenly… all the memories about him came back. I was at the stage and I had million words I wanted to tell him after the concert – I even planned to ask staffs to let him to the backstage, but…” Taemin sobbed again, but this time, he didn’t wait his voice to be better in tone – he just continued in sadness, “… he was with someone else, Jonghyun. He has someone else, and that person is not me… I’m so – I’m… I –“

 

 

Jonghyun, the older man just patted Taemin’s shoulder slowly.

 

“Jonghyun… I feel… I feel so shit and useless.” Taemin said.

 

 

“Can I ask?” Jonghyun asked when Taemin stopped sob. Seeing how Taemin gave a sign that he could give any question, Jonghyun then finally asked him, “if you had a chance, would you accept him or not?

 

 

 

Quiet.

 

Taemin didn’t say anything. he was staring at the wall in front of him. Wonders, that he didn’t deserve to cry because he even has no opinion of it.

 

“Let’s talk about what your heart wants, because it’s something that you need to believe in yourself, Taemin. You don’t believe with God if your heart doesn’t so, right?” Jonghyun answered.

 

“Honestly, I…” Taemin paused. He then kept silence again, he felt that everything was getting more complex.

 

“I don’t believe with God, Taemin. But, I know a lot of religious people around me and they do have sins. They cheat from their partner, one of them was stealing money from a company, another one is commited suicide because his grade went down, one friend had a bad drinking habit, and so on. There were a lot of sins in this world, Taemin, and nobody’s perfect.” Jonghyun stated. “I actually support LGBTQA+ rights, and I think, being gay is not a sin. You’re just happened to be different with another people, it’s like a taste, okay? Let’s say you like banana flavor in your milkshake, when most of people like strawberry or chocolate.”

 

Taemin sighed. “It is a sin, Jonghyun.”

 

“Okay, if you’re seeing it as a flaw, then I’m going to give a different point of view. Let’s say, you’re gay. Okay, you have sin. But, you’re not killing people. You’re not doing drugs. You’re not being a whore. You’re just in love. You’re maybe in love with the wrong person in God’s perspective, but is that love classified as a sin?”

 

Literally, Taemin couldn’t say anything. he knew that bible said that he should love everyone, even though it’s his enemy.

 

 

“Again, I’m not a religious person like you, but I believe that love is not a sin, and if you accept that idea, I will tell you one thing.”

 

Taemin flenched his eyebrows, giving sign that he wanted to know what it was.

 

 

 

“Love is a losing game.”

 

“Losing game?”

 

Jonghyun nodded. “You’re winning the love when you’re losing to your love. The more you give in, the more point you’ll get. And by that time, you’ll realize – as you believe in God, that any love you landed into… is a fate resigned.

“So if I could give you a suggestion, you’d better tell him –“

 

 

“Minho. it’s his name.” Taemin said.

 

“Okay. So… at least, tell him about your feeling. Like the gambling; let your dice out, it’s another business whatever he respond you or not.”

 

 

 

Love is a fate resigned

 

 

 

===

 

 

 

And… yes. Here Taemin now.

 

He sat in the coffee shop, looking at his phone.

 

It was a month after the conversation with Jonghyun happened, Taemin then decided to text Minho, asking him to meet him. At first, Minho didn’t reply but two days after, Minho answered him and they made appointment to meet in the coffee shop – a place where they have always met before.

 

Taemin smiled sweetly when he saw a message in a bubble that Minho sent to him a little while ago, saying that he probably would be late because of traffic jam. Funny how little things about him could still make him happy and shy at the same time.

 

 

 

 

“Hey.”

 

That hushky voice suddenly broke his enthusiasm from his gadget.

 

 

Oh.

 

That’s Minho.

 

 

 

He’s sitting in front of him.

 

That day, he looked so good. He wore a navy tee with black jeans. His hair cutted perfectly, enough making Taemin’s heart pumped when he smiled at him.

 

It felt like yesterday. Because Minho wasn’t change a lot – he’s still handsome as ever.

But it also felt like million years. Because Taemin missed him a lot, like… God knows how much.

 

 

 

Over futile odds

And laughed at by the gods

 

 

So Taemin smiled to him back. this time, he would lose to anything left from him – his belief, his pride, his faith, even his love – and turned to walk a way, following his honest heart.

 

 

 

And now the final frame

 

 

 

What’s with that pretty smile?” Minho said, in a confused tone, but he still looked so fine, and he looked pleased.

 

Still smiling, Taemin just shook his head slowly. “It’s just…” he said, making sure that Minho was listening to him. “… I’m so happy to see the love of my life again.”

 

 

 

 

 

 

Love is a losing game

 

 

 

 

 

 

 

 

 

END.

 

 

Confused Baby (2) – 2Min

Hey y’all!

 

I’ve been finishing this since 4 hours ago but my wifi was dead so -________-

Okay, so, I’M SUCK AT MAKING STORY THIS IS NOT EVEN GREGET. PLS SEND HELP (i mean send your feedback wether you like it or hate it it’s fine for me)

 

 

 

 

 

 

 

 

Confused Baby

cast: 2min, key, supporting role

Author: flamingaze

 

 

 

 

 

 

BGM : Adam Levine – Lost Star (you need to listen this on repeat because i wrote a shitty story and this gotta help you to get into what i want to tell T_T)

 

 

 

We need to talk, baby

 

 

===

 

 

“Apa kau baru saja mengatakan aku jahat?”

 

Taemin terdiam. Ia meremas bantal di pelukannya, menahan dirinya dari sesegukan dan memikirkan alasan apa yang harus ia buat agar Minho tidak perlu mempertanyakan ini – fuck, seharusnya ia tidak perlu menghidar dan segera menanyakan isi kepalanya kepada Minho secara langsung.

 

 

Please don’t see

 

 

“Baby…”

 

Suara lembut itu tidak meluluhkannya. Entahlah. Taemin menghela nafasnya pelan, kemudian mengelap air matanya dan berbalik, menatap Minho yang duduk di sampingnya.

 

“Kenapa?”Laki-laki yang lebih tua itu mengusap-usap kening Taemin pelan.

 

“Siapa dia?” Taemin bicara, menahan emosinya.

 

“Dia?”

 

Dia. Baby.”

Minho menatap Taemin dengan tatapan heran. It’s really cliche to get that kind of expression, seriously.

Aku melihat fotonya di komputermu. Foto itu diambil 2 tahun lalu. Aku melihatmu menciumnya.”

 

Seketika tangan Minho berhenti mengusap kening Taemin. Ia tampak terkejut, obviously, tidak menyangka bahwa Taemin akan menemukan hal yang ia sembunyikan selama ini.

Entah bagaimana memulai penjelasan pada Taemin karena foto yang Taemin maksud itu memang diambil ketika mereka – Minho dan Taemin sudah memiliki hubungan romansa. Satu hal yang pasti, Minho telah berbohong padanya.

 

Laki-laki cantik itu tidak salah melihat Minho menelan ludahnya, mencoba membasahi kerongkongannya yang kering. Dan itu membuat emosi Taemin semakin terpancing – kau tau, gesture itu biasanya dilakukan ketika kau ingin membuat sebuah alasan, dan mostly, alasan itu adalah kebohongan.

 

 

 

JAWAB AKU!!!!!” Taemin berteriak tiba-tiba. Ia membangunkan tubuhnya yang berbaring, duduk, dan membuang bantal di pelukannya ke hadapan Minho – yeah, lebih tepatnya ia memukul Minho.

 

 

 

 

 

Just a boy caught up in dreams and fantasies

 

 

“Baby –“

 

 

 

I thought I heard you call my name

 

“Jawab aku! Apa ada sesuatu di antara kalian???” kali ini Taemin memelankan suaranya, tapi itu bisa teerdengar dari nada suaranya bahwa ia emosi dan ia menuntut jawaban, saat ini juga.

 

 

Minho, laki-laki itu hanya menunduk sebentar, kemudian menagangguk. Dan seolah kembali menampar Taemin yang shock dengan fakta yang ia lihat, Minho bicara, “apa yang kau lihat di foto itu… memang benar.

 

 

 

Astaga.

 

I thought I saw you out there crying

 

Air mata Taemin kembali menetes. Ia pikir ia akan bisa menahan air matanya karena tadi ia sudah cukup menangis, tapi ternyata tidak. Hatinya sakit. Sangat sakit.

 

Sejak kapan… dia hadir di antara kita?” tanyanya, mencoba bicara dengan lancar, meskipun dadanya sudah mulai sesak.

 

Minho menggeleng. “Kau… yang hadir di antara aku dan dia.

 

 

 

Oh God, apa lagi ini?

 

Buru-buru Taemin membuang mukanya. Apakah… dia baru saja mengatakan bahwa sebenarnya Taemin adalah selingkuhan Minho? Hatinya yang sakit seperti ditempa oleh sesuatu yang berat hingga retak.

 

“Aku dan Jung sudah selesai –“

 

“Jung. Oh… namanya bagus.” Taemin memotong kalimat Minho.

 

Kami sudah berakhir. Sudah lama.” Minho kembali mengkonfirmasi, memastikan bahwa Taemin menangkap bahwa mereka sudah tidak punya hubungan apapun saat ini.

 

“Tapi tetap saja tidak menghapus fakta bahwa kau selingkuh,” ucap Taemin tanpa basa-basi.

 

Minho hanya diam. well, there will never be a good time to let worst part of their relationship to get in.

“Sayang…” ia mengusap air mata Taemin, tetapi Taemin buru-buru menepisnya.

 

“Jangan sentuh aku,” ucap Taemin.

 

Minho hanya menatapnya dalam diam. ia tidak pernah melihat Taemin semarah ini. of course, tidak mungkin ada orang yang bisa tenang-tenang saja mendengar berita bahwa pacarnya berselingkuh – okay, dia bilang hubungan mereka sudah berakhir, but who fucking knows kalau ia sedang dekat dengan orang lain yang hadir di antara mereka? I mean, siapa yang tau apakah Taemin akan berakhir seperti Jung atau tidak.

 

“Jangan sentuh aku.” Taemin bicara pelan. “Jangan sentuh aku!” ucapnya lagi, menangis. Ia memeluk bahunya sendiri, meratapi betapa kasihan hatinya yang hancur. Lalu ia berteriak, “JANGAN SENTUH AKU!” marahnya.

 

 

 

Buru-buru Taemin turun dan tempat tidur dan masuk ke dalam shower room yang letaknya berada di samping tempat tidur. Ia mengunci pintu dan menangis di dalam, meninggalkan Minho yang hanya bisa menghela nafas – menyesal akan segalanya.

 

Taemin duduk di toilet. Ia menangis. Menangis. Dan terus menangis. Ia tau Minho pasti bisa mendengar tangisannya karena ia tidak bisa membendung teriakannya lagi.

Kecewa. Marah. Sakit. Sedih. Segalanya. Hatinya sudah hancur. Berkeping-keping. Ia mungkin sudah tidak bisa memungut dan menyatukannya kembali; at this moment.

 

 

 

I thought I heard you out there crying

Just the same

 

 

Di sisi lain, Minho hanya bisa mendengar suara tangisan Taemin. Laki-laki cantik itu meracau tidak jelas. Ia memang sudah memprediksi hal ini akan terjadi ketika Taemin mendengar yang sebenarnya, dan memang, ia sudah berkali-kali mencoba mencari cara bagaimana menghadapinya ketika hal ini terjadi, but Taemin caught him first before he even found how to.

Mendengar bagaimana Taemin tidak bisa menahan kesedihannya, Minho tau siapa yang bersalah dalam hal ini – dirinya. Bagaimanapun, semua ini salahnya.

Ia berjalan pelan, kemudian mengetuk pintu shower room.

 

 

Please see me reaching out for someone I can’t see

 

Maaf…” ucapnya pelan.

 

Tidak ada jawaban dari Taemin. Minho hanya bisa mendengar pacarnya terisak. Ia tidak perlu bertanya, Taemin pasti sedang tidak mau melihatnya saat ini.

 

“Aku ada di ruang tengah, jika kau butuh sesuatu.”

Ya. hanya itu yang bisa ia katakan. Sungguh klise dan terdengar tidak berperasaan. But man, what can you say?

 

Mendengar itu, Taemin hanya menutup wajahnya, kemudian kembali menangis. Ia ingin marah kenapa Minho bisa-bisanya meminta maaf ketika Taemin tidak bisa memaafkannya. Merasakan tangannya basah karena air matanya yang tidak mau berhenti mengalir, Taemin lalu menjambak rambutnya sendiri, menangis. Tidak ada hal lain yang ada di pikirannya selain bagaimana buruk dirinya yang selama ini percaya bahwa hubungan mereka tidak akan diinterupsi oleh orang ketiga – tidak, lebih tepatnya ia tidak pernah tau kalau ternyata dialah yang menjadi orang ketiga di antara hubungan mereka sebelumnya.

 

Taemin ingat bagaimana dulu Key pernah bertanya padanya apa ia yakin bahwa hubungan mereka akan berlanjut serius ketika Taemin bercerita pada Key mengenai bagaimana mereka berdua memiliki perasaan satu sama lain.

 

.

.

.

 

“Taemin, apa kau yakin? Kau ini baru akan menginjak 20 tahun, dan dia… 37 tahun. Wait. Let me process.”

 

“Key, aku… tidak peduli soal perbedaan umur. Kami berdua benar-benar jatuh cinta.”

 

“Tidak, maksudku… apa dia tidak sedang mempermainkanmu? I mean… kau bahkan memanggilnya ‘daddy’ and it sounds like… kau hanya mainan untuknya, dan sebagai gantinya ia membelikanmu segala hal yang kau inginkan – okay, dia juga membelikanmu tas yang harganya sama seperti uang semester kuliah.”

 

“Tapi dia tidak mempermainkanku.”

 

“Tsch. Apa kau yakin, ha?”

 

“Tentu saja!”

 

.

.

.

 

It was two and half years ago approximately, dan ia tidak pernah tau – karena Minho tidak pernah mengatakan padanya – bahwa pada saat ia membiarkan hatinya dikuasai oleh Minho, saat itu Minho milik orang lain – Jung.

 

“Aku bodoh! Huhhuuu… a – ku bodoh!” Taemin mengutuk dirinya sendiri. bahkan ketika hubungan mereka sudah memasuki tahun kedua, ia masih begitu naif dan mempercayakan hatinya pada Minho.

 

 

Best laid plans sometimes are just a one night stand

 

Ya. ia benar-benar bodoh karena ia baru menyadari bahwa ia dibohongi – and this relationship suddenly sounds like a one night stand; a-very-long one night stand.

 

 

So let’s get drunk on our tears and

 

 

With that thought, Taemin membiarkan air matanya keluar sampai tubuhnya lelah dan akhirnya ia memutuskan untuk tidur – di tempat tidur Minho, obviously. Thank God, malam itu Minho tidak tidur di kamarnya.

 

 

 

===

 

 

 

Taemin mengecek email di perpustakaan. Ia baru saja selesai mengapply beberapa pekerjaan pada job fair yang ia datangi pagi ini. hal buruknya adalah, ia tidak bertemu Key pada job fair jadi beberapa kenalannya yang juga ada di job fair saat itu sempat mengusik pikirannya yang sedang kusut untuk makan bersama, dan lainnya – dan ia berhasil kabur dari ajakan itu dengan mengatakan bahwa ada beberapa buku yang harus ia kembalikan ke perpustakaan  – which was a lie, karena ia sudah mengembalikan semua buku pinjamannya kepada perpustakaan sejak sebelum wisuda.

Melihat emailnya yang memang sudah terkirim pada Key sejak semalam, Taemin hanya bisa menghela nafasnya. Yeah, mungkin Key sibuk. dan itu sangat tidak beruntung karena Taemin benar-benar butuh teman sekarang.

 

 

“Yah, Taemin!”

 

Huh?

 

Taemin menoleh, menapati Key yang menghampirinya dengan riang seperti biasanya.

“Tsk. Kau tidak membaca emailku? Kenapa kau baru datang?” protesnya.

 

“Huh? aku tidak membacanya. Semalam aku mabuk, bagaimana mungkin aku ingat dengan email –“ Key seketika terdiam ketika ia membaca email dari Taemin semalam di handphonenya. Dengan ragu ia menatap Taemin. “Apa ada yang terjadi di antara kalian?” tanyanya serius, saat melihat mata Taemin yang bengkak.

 

Menghela nafasnya, Taemin lalu bicara, “aku tidak tau. aku marah padanya semalam dan pagi ini aku tidak melihatnya.”

 

Key mengernyitkan alisnya. “Yah, apa kau batal makan malam? Apa kau marah karena itu?”

 

Taemin menggeleng. “Kami tidak pergi makan malam bersama di luar. Tapi aku tidak marah karena itu.”

 

“Lalu? kau marah karena kalian tidak bercinta atau semacamnya?”

 

Lagi, Taemin menggelang. “Aku tidak ingin bercinta dengannya lagi. Benar-benar tidak akan.”

 

“Why?” Key memiringkan kepalanya. “Apa dia sudah… tidak se wow biasanya? Maksudku… apa dia sudah tidak tahan lebih lama? apa viagra tidak bisa membantu? Wait. Tapi bukankah seharusnya dia masih aktif secara seksual – “

 

“Key!!!” Taemin memotong kalimatnya.

 

Tsk. This is Key and his curiousity, by the way -_-

Untung saja saat itu perpustakaan tidak dipenuhi orang – setidaknya di komputer, jadi pembicaraan bodoh ini tidak terdengar siapapun dan tidak mengganggu siapapun – at least.

 

“Lalu kenapa? Ada sesuatu tapi kau tidak memberitau padaku. Tentu saja aneh kalau biasanya kau selalu tersenyum-senyum seperti orang gila setelah semalam kau dan dia bercinta – haish, bitch kau benar-benar…”

 

Dia berselingkuh.”

 

“Oh okay, dia berse – WHAT????”

 

Taemin menghela nafasnya cepat. “Tidak. Dia berselingkuh dari pacarnya denganku.”

 

Key mengedipkan matanya 4 kali, mencerna kalimat Taemin pelan-pelan. “Apa kau yakin?”

 

“Dia yang bilang padaku.”

 

Laki-laki bermata sipit itu menggaruk rambutnya. “Wait. Bagaimana bisa?”

 

God, tell us the reason youth is wasted on the young

It’s hunting season and the lambs are on the run

Searching for meaning

 

 

 

 

 

 

 

Taemin duduk di salah satu meja perpustakaan, membaca buku ensiklopedia – tidak, sejujurnya ia tidak membacanya. Ia melamun.

 

 

“Kalau begitu ceritanya, artinya… dia memilihmu kan?”

 

 

 

Mau tidak mau ia terpikir dengan reaksi Key ketika ia menceritakan bagaimana dia merasa patah hati pada kekasihnya semalam. Kalimat Key ada benarnya tetapi tetap saja… karena ia sudah pernah berbohong, siapa yang tau kalau dia sekarang sedang mendekati orang lain selain Taemin – dan akan memilih orang lain itu suatu hari nanti?

No matter how he tried to look at another perspective, Taemin never felt like his heart could understand – or perhaps, he just didn’t want to.

 

Terus menerus berkutat dengan hal yang sama – he’s in a battle with himself at the moment – Taemin merasa mengantuk, dan pada akhirnya ia tertidur…

 

 

 

But are we all lost stars, trying to light up the dark?

 

 

… and woke up 2 hours after.

 

As soon as he opened his eyes, ia melihat sebuah paperbag di hadapannya.

Mengedipkan matanya beberapa kali, Taemin menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan apakah ada orang yang tidak sengaja meninggalkan barang milik mereka – he didn’t found any. Dengan sangsi, ia mengambil paperbag tersebut dan mengintip isinya. Barangkali ia bisa melaporkan pada petugas perpustakaan.

 

Huh?

 

Ia mengernyitkan alisnya ketika melihat box iPhone di dalamnya.

Okay. It’s a new iPhone – iPhone 7 plus.

Wait. Jangan-jangan……..

 

 

 

Yeah. Dugaannya benar.

 

Soon as he turned on the phone, ada pesan masuk.

 

 

 

It’s stressing me, karena kau bahkan tidak makan sarapanmu pagi ini. Let me know if you have spare time. We need to talk, baby.

 

 

Right. That’s Minho.

 

 

 

===

 

 

 

Malam itu hujan cukup deras.

 

Tidak cukup bagus karena Taemin sedang berada di toserba dekat dengan kostnya. Well, biasanya hujan akan cepat berhenti karena sebentar lagi akan memasuki musim panas. So, instead of membeli payung untuk pulang, ia memilih untuk menunggu hujan reda sambil makan ramen, lalu mengunyah beberapa cemilan setelahnya.

Ia melirik handphone barunya yang ia taruh di atas meja, lalu kembali membaca pesan dari Minho untuknya. Ya. ia belum membalasnya – sebenarnya, ia tidak mau membalas pesan itu, at least tidak sekarang.

 

“Dia kenapa sih? Aku kan sudah bilang kalau handphoneku akan kembali seminggu lagi,” ucapnya, seolah ia pura-pura lupa bahwa Minho memang sering memfasilitasinya. Apalagi di saat Taemin tidak bisa dihubungi. Minho tidak mungkin diam saja.

 

 

Who are we? Just a speck of dust within the galaxy?

Woe is me, if we’re not careful turns into reality

 

“Dasar playboy!” kutuknya, kemudian memasukkan handphone-nya ke dalam saku hoodie-nya, lalu membuka bungkusan snack cumi-cumi kering pedas (?) yang barusan ia beli. (-_-)

 

 

It’s legit. Taemin akan makan dalam jumlah banyak ketika ia sedang stress. Look. Ia sudah menghabiskan 2 cup ramen, dan 3 bungkus besar cumi-cumi kering, sambil mengomel sendiri mengingat Minho yang memintanya menghubunginya. Like… what the fuck? Kalau dia memang menyesal seharusnya dia menelepon Taemin dan menjelaskan apa hal yang ingin ia bicarakan.

 

But…

 

“Well, dia sibuk. mana mungkin dia punya waktu memikirkan hal sepele seperti aku,” gumamnya, meneguk kaleng berisi bir nya, lalu kembali memakan snacknya.

 

Lalu…

 

 

 

 

“Berhenti minum itu. kau bisa mabuk.”

 

Huh?

 

 

 

Taemin menoleh. Dan…

 

 

 

 

 

 

OH MY GOD. WTH???

 

 

It’s… Minho.

 

 

 

I’d be damned Cupid’s demanding back his arrow

 

 

Taemin diam. ia tidak pernah menyangka kalau Minho datang ke sini. Okay, pertama, bagaimana Minho tau kalau dia ada di sini? Ia bahkan tidak membalas pesan Minho. kedua, apa Minho datang ke kostnya dan menemukannya tidak ada di sana jadi ia mencari Taemin dan akhirnya menemukannya di sini?

 

Fuck. Bagaimanapun Taemin tidak ingin berspekulasi atau bertanya-tanya – ia ingin tidak peduli kenapa Minho ada di sini – tapi hati kecilnya masih mengemis berdoa kepada Tuhan berharap bahwa pilihan kedua adalah hal yang terjadi saat ini.

 

Minho lalu menyerahkan susu pada Taemin – susu pisang favoritnya – kemudian duduk di samping Taemin. Ia melihat beberapa bungkus makanan di sekitar Taemin, dan satu kaleng bir. Okay, ia lega karena itu masih satu kaleng – atau Taemin akan mabuk.

 

“Kenapa tidak membalas pesanku? Kau sudah membacanya sejak tadi sore.” Minho bicara, memastikan apa Taemin masih marah padanya.

 

Taemin lalu memalingkan mukanya. Ini adalah bagian dari conversation di mana ia ingin kabur. Lalu, tanpa bicara banyak, ia mengambil susu pisang dari Minho dan menyeruputnya. Ia kemudian mengeluarkan uang 2000 won dan handphone dari saku hoodienya dan memberikannya pada Minho.

“Terima kasih susunya. Aku akan membayarnya sendiri. lalu, soal handphone ini, aku kembalikan. Handphone-ku akan kembali dalam satu minggu, jadi tidak perlu repot-repot –“

 

“100 juta won.” Minho bicara, membuat Taemin menghentikan kalimatnya. “Kalau kau mau mengembalikan ini, berikan aku 100 juta won.”

 

 

UGH. Taemin berdecis. Here we go again. Minho selalu mengatakan hal yang tidak masuk akal jika Taemin mengembalikan barang-barang mahal yang Minho berikan untuknya secara cuma-Cuma.

“Jangan bercanda. aku benar-benar tidak mau –“

 

“Aku tidak bercanda.”

 

 

EEEEEERRRRGHHHH!!! Taemin glenched his teeth inside his mouth. “Okay, kalau begitu. Aku sedang tidak ada waktu. Bye,” ucapnya, berdiri, lalu memasang tudung hoodienya dan keluar dari toserba. Masa bodoh, hujannya juga tinggal rintik-rintik. Toh, ia tidak akan mati karena kehujanan.

 

Beberapa langkah dari toserba, ia bisa melihat Minho masih menatapnya dari balik dinding kaca. Kemudian, tanpa ragu, ia berjalan cepat untuk kembali ke kostnya.

 

 

 

Tetapi baru sekitar 200 meter dari toserba, Taemin mendengar suara langkah berlari. Dan tanpa ia sadari, ia memelankan langkahnya. Dan ketika langkah itu semakin dekat, jantungnya berdegub tidak karuan.

 

 

 

 

“Permisi!”

 

Shit. Taemin mengumpat dalam hati ketika menyadari bahwa suara langkah lari itu bukan karena Minho mengejarnya, tapi karena a random dude sedang berlari mengejar bus yang tengah berhenti di halte sekitar.

 

Hal menyebalkan lainnya adalah karena Taemin masih berharap bahwa Minho mengejarnya yang pergi begitu saja. Tetapi hal yang paling menyebalkan adalah, Taemin masih peduli dengan harapan bodohnya bahkan ketika ia tau bahwa ia benci pada Minho.

 

“Tidak. Jangan menangisinya lagi.” Ia mengucek matanya ketika mendengar derap langkah yang mendekat. Itu akan sangat memalukan ketika seseorang yang tengah mengejar bus – just like the random dude before – menemukannya menangis karena tidak sengaja menabraknya atau apapun.

 

But…

 

 

 

 

Langkahnya terhenti ketika ia merasa tubuhnya dipeluk dari belakang.

 

 

 

 

 

 

“Maafkan aku…”

 

How could this feel surreal?

 

Taemin menunduk. Dengan jelas ia bisa melihat kedua pergelangan tangan Minho menyatu memeluk tubuh kurusnya – it’s not a random dude. Taemin bisa melihat jam tangan yang selalu Minho pakai melingkar di tangannya.

 

 

 

Don’t you dare let our best memories bring you sorrow

Yesterday I saw a lion kiss a deer

 

 

 

“Aku merindukanmu…” Minho bicara – in exact, he wishpered. “Aku benar-benar merindukanmu, baby…”

 

 

Turn the page maybe we’ll find a brand new ending

Where we’re dancing in our tears and

 

God, tell us the reason youth is wasted on the young

It’s hunting season and the lambs are on the run

Searching for meaning

But are we all lost stars, trying to light up the dark?

 

 

 

 

 

Drive him home?

 

What a bullshit.

 

Taemin ingin protes karena Minho membawanya masuk ke dalam mobil, dan instead of mengantar Taemin pulang, ia malah memutar gagang setirnya untuk menyusuri jalanan di Seoul. True, they’re on long night ride. However, Taemin merasa sangat malas untuk bicara padanya – he didn’t want to initiate any conversation that possible to be created.

 

 

God, give us the reason youth is wasted on the young

 

 

“Aku kenal Jung beberapa tahun yang lalu. waktu itu kakaknya adalah klienku dalam kasus pencurian.” Minho memulai pembicaraan.

 

Okay, he’s really bad at making excuse; ia hanya akan menceritakan kronologis masalah yang terjadi tanpa Taemin perlu bertanya.

 

“Jung datang ke kantorku di hari pertama aku mulai aktif bekerja setelah aku menyelesaikan PhD-ku. Saat itu semua tim ku menolak melakukan pembelaan karena kasusnya dianggap terlalu ringan, ia meminta pembelaan untuk kakaknya yang mencuri uang di toserba di malam hari. Lalu dia kembali keesokan harinya, memohon padaku. Dia bicara padaku bahwa tanpa kakaknya, ia tidak memiliki siapa-siapa. Dia juga mengaku bahwa memang kakaknya mencuri uang tersebut, yang akan dipakai untuk membayar hutang ayahnya. Ayahnya memiliki kebiasaan minum yang buruk dan ibunya mengidap skizofernia. Aku lalu memutuskan untuk mengenalkannya dengan pengacara publik, tapi saat itu pengacara publik meminta bantuan back up dariku…”

 

Minho membelokkan mobilnya ke kanan ketika lampu hijau menyala.

 

“Singkat cerita, kakak Jung masuk penjara. Vonisnya 1 tahun. Aku mengunjunginya seminggu setelah ia berada di penjara, dan ia meminta tolong padaku untuk menjaga Jung. Saat itu aku mengiyakan karena memang benar tidak ada tempat yang lebih baik untuk Jung selain bersama kakaknya – dan itu sudah tidak mungkin bagi mereka untuk tinggal bersama, apalagi saat itu Jung masih 17 tahun, putus sekolah, dan tidak punya pekerjaan. Jadi aku membawa Jung bersamaku, dan memasukkannya kembali ke sekolah yang dekat dengan kantorku.

“Setelah 3 bulan tinggal bersamaku, Jung mengatakan bahwa ia ingin pergi dan hidup sendiri tapi aku melarangnya. Tidak lama kemudian, dia akhirnya mengaku, alasan ia ingin pergi adalah karena dia menyukaiku. Saat itu, yang ada di pikiranku hanyalah bagaimana agar Jung bisa tetap sekolah, jadi aku mengatakan padanya bahwa dia boleh menyukaiku dan menemuiku kapanpun. Tapi ia bersikeras untuk hidup sendiri, jadi aku mencarikannya rumah sewa di dekat sekolahnya.”

 

Taemin menghadap jendela samping. Ia tidak mau melihat Minho menangkap air wajahnya ketika mendengar cerita hubungan dua manusia yang sudah ia hancurkan – without he realized, obviously.

 

“Sebulan setelah ia tinggal sendirian, pada suatu sore, Jung datang ke kantorku dan menangis. Dia marah padaku karena aku tidak pernah datang ke rumahnya, atau sekedar menghubunginya. Lalu dia bilang saat itu dia ingin kami berpacaran. So… that’s it. Aku benar-benar mencemaskannya, jadi kupikir memang kami seharusnya berpacaran; tapi… di tengah-tengah hubunganku dengan Jung, aku mendapat undangan dari Universitasmu, dan kita bertemu.”

 

Memejamkan matanya, Taemin berpura-pura tertidur. Even though this looks like he’s misbehave, jujur saja, ia masih mendengar penjelasan Minho – ia hanya tidak ingin menanggapi.

 

“Mungkin ini terdengar bullshit, tapi aku benar-benar tidak menyangka aku akhirnya sadar kalau aku memiliki perasaan yang lebih terhadapmu – awalnya aku pikir kau hanya menarik karena kau sangat pintar…” Minho tersenyum pahit.

 

 

 

It’s hunting season and this lamb is on the run

Searching for meaning

 

 

Ia lalu melanjutkan, “… lalu semuanya seperti itu. setelah kakak Jung keluar dari penjara, ia mengatakan bahwa ia akan membawa Jung ke Daegu untuk memulai hidup baru. Awalnya Jung tidak mau ikut karena ia masih ingin berada di dekatku, sampai pada akhirnya aku bisa mengatakan padanya bahwa… aku sudah berpacaran dengan orang lain, yaitu kau.”

 

 

 

 

Mobil Minho berhenti di suatu tempat. Ia menoleh dan mendapati Taemin yang tengah memalingkan wajahnya. Lalu tanpa basa basi, Minho mengambil bantal leher di jok belakang, dan memasangkannya ke leher Taemin. Kemudian ia membuka jasnya untuk menyelimuti Taemin, dan keluar dari mobil setelah sebelumnya ia membuka kaca jendela.

 

Beberapa menit Taemin masih berpura-pura memejamkan matanya, sampai ia memastikan Minho sudah menjauh darinya, he opened his eyes. Bisa ia lihat dengan jelas bahwa mereka sekarang berada di pinggir sungai Han. Ia lalu menatap Minho yang membelakanginya, tengah memandangi sungai sendirian.

 

 

But are we all lost stars, trying to light up the dark?

 

 

 

 

 

 

 

“Is that a cigarette?”

 

Minho menoleh, mendapati Taemin yang mengambil duduk dua jengkal di samping kanannya. Tersenyum simpul, ia lalu mematikan rokok yang hampir habis ia hisap.

 

 

Dan selanjutnya….

 

 

 

 

Hening.

 

None of them were speaking. Minho sibuk melihat lampu yang berkelip di seberang tempat mereka – Seoul is a busy city, this is the least thing you could call beauty. In another hand, Taemin was counting to fifteen to prepared a perhaps-gonna-be-a-sad conversation.

 

Exactly, ketika ia menghitung ketukan ke lima belas, Taemin membuka suaranya. “Kenapa tidak memberitauku sejak dulu?”

 

Minho terdiam sesaat. It’s not really hard to proceed that actually, Taemin heard all of his explanation before. “Itu salahku. Maaf,” balasnya singkat.

 

“Pasti ada alasannya…” Taemin bicara, lalu menunduk. “… pasti ada alasan kenapa tidak memberitauku,” ujarnya.

 

 

This sounds really sad, indeed. Setidaknya, jika Minho memberikan sebuah alasan, ia pasti tidak berniat untuk menyakiti Taemin, did he?

 

“Itu alasan klise. Kau pasti tidak senang jika mendengarnya,” ucap Minho.

 

“Tapi tetap saja… apa aku tidak berhak mendengarnya?”

 

Minho menghela nafasnya. Pada akhirnya ia mengalah dan memberitau, “aku… tidak ingin kau meninggalkanku.”

 

Tersenyum pahit, Taemin lalu mendengus. Ya, itu alasan yang sangat masuk akal dan simple – he was right, it’s cliche. Also, it’s true that itu bukan alasan yang membuat Taemin senang ketika mendengarnya. Because it means that Minho sejak awal tidak memiliki niat untuk menceritakan hal ini pada Taemin.

Again, Taemin felt hurts inside his chest.

 

 

 

 

“Lalu kenapa harus menungguku menangis?”

 

Minho diam. ia menatap Taemin yang juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

 

 

“Kenapa harus menungguku mengeluarkan air mata untuk jujur padaku?”

 

Pelan, Minho mengulurkan jari-jari panjangnya untuk menghapus air mata Taemin. Knowing that the pretty boy didn’t against this action, ia lalu bicara,

“Maaf –“

 

 

“Kenapa tidak bilang padaku sebelum kita memulai hubungan? Kenapa?”

 

Minho mengambil nafas dalam-dalam, seolah ia akan melepas beban berat yang ia sembunyikan selama ini.

“Orang bodoh mana… yang akan menungguku menyelesaikan hubunganku dengan orang lain ketika aku sudah memulai datang padanya?”

 

Taemin menatap Minho nanar. Air matanya mengalir semakin banyak.

 

 

 

 

I thought I saw you out there crying

 

 

Aku. orang bodoh itu adalah aku,” ucapnya menahan isakannya – but he couldn’t. “Jika kau memintaku… hiks… untuk menunggumu sebentar sampai kau selesai… dengan orang lain… hiks… aku akan menunggu.”

Taemin mengucek matanya kasar, lalu memukul bahu Minho. “Aku pasti menunggumu! Kau yang bodoh!! Huuuuhuuuu….” tangisnya.

 

 

 

Spacing out. Minho tidak menyangka bahwa Taemin akan menjawab hal yang tidak pernah ia prediksi. Now he really could label himself as a really bad guy – he doesn’t deserve this, seriously. Nevertheless, as he wasn’t bad enough, he couldn’t help but came closer to Taemin, and hugged the boy he loves with all of his heart.

 

 

“Maaf… maaf, aku benar-benar tidak tau…” Minho mengusap pucuk kepala Taemin lembut. He could feel his heart as broken as what Taemin’s.

 

Aku benci padamu! Aku sangat – hhhhhuuuuhhhhh… ben – ci… hiks… aku benci padamu…” Taemin terisak di pelukan Minho.

 

“Iya… ini semua salahku. Maafkan aku…” Minho memeluk Taemin semakin erat. God, he really loves this boy.

 

Taemin lalu menyandarkan kepalanya di tubuh Minho yang tengah mendekapnya dengan hangat. Masih menangis, ia bicara, “aku benci… tapi kenapa… aku masih sangat – menyukaimuaku bingunghatiku sakit… sakit sekali… hhhhh…”

 

 

 

I thought I heard you call my name

I thought I heard you out there crying

 

 

 

Laki-laki yang lebih tua itu kemudian melonggarkan sedikit pelukannya, mengecup kening Taemin, dan kembali memeluknya. “Aku mencintaimu, baby… maaf… ini salahku. Semuanya salahku… maaf, sayang…” he whispered, as he teared up.

 

 

 

But are we all lost stars, trying to light up the dark?

But are we all lost stars, trying to light up the dark?

 

 

Entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah malam itu, dan entah sudah berapa banyak kata maaf yang terlontar. But one thing for sure that they both learn tonight; that there’s no happily ever after in love.

 

 

 

 

 

 

 


 

pick one:

  1. end
  2. continue
  3. prolog
  4. both (1&3) or (2&3)

Confused Baby – 2Min [1]

Hello!

 

FF ini sudah sejak 2 hari yang lalu nyangkut di kepalaku LOL tapi belum ada waktu untuk nulis. Aaaaand today! Aku bisa nulis ^^

Plan to wrote it in english, tapi for some reasons, aku merasa grammar dan vocabku lebih jelek dari sebelumnya so… bye confident lmao

As usual, judulnya suck banget HAHAHA BODO AMAT BTW THIS IS A CONCEPT I ALWAYS LOVE TO WRITE SOMEDAY AND NOW IS THAT SOMEDAY 🙂

 

 

 

 

 

 

Confused Baby

Cast: 2min

Author: flamingaze

 

 

 

 

BGM song: love fool – the cardigans (this is an old song but i LOVE IT so much it’s cute and y all should listen since i didn’t make a cute fic but i want a cute want HELP)

 

 

 

 

 

Author’s note: idk about system in korea but here’s things i know a bit about stuffs related to their job/major

 

 

 

“I should be happy if I still can see you even though I’m busy.”

 

===

 

 

 

“Surpri – se….”

 

Taemin seketika terdiam ketika melihat sosok yang ingin ia berikan kejutan tengah tertidur di sofa. He freezed for a second, kemudian melangkah maju perlahan, untuk memastikan apakah laki-laki di hadapannya itu benar-benar tertidur.

 

Well, yeah, he is.

 

Taemin pouted his lips. ia mengingat bagaimana ia buru-buru pergi dari kampus setelah selesai menyusun pidatonya – ia bahkan sempat tertinggal bus dan memutuskan untuk sedikit berlari sampai halte selanjutnya hanya untuk datang ke apartemen ini dan memberinya surprise.

 

But… okay.

 

Laki-laki berparas cantik itu hanya menghela nafasnya pelan. Sabarlah, Lee Taemin. Umurmu memang 22 tahun, tapi isi kepalamu harus sudah lebih dari 30 tahun untuk memahaminya, also, to make this relationship works – right, I haven’t told you, but the thing is… this dude is actually Taemin’s boyfriend.

 

Wait… boyfriend?

 

 

 

… right. Lover. Boyfriend. There is no term who can explain other than that, meskipun laki-laki ini tidak bisa diasumsikan sebagai a ‘boy’ in boyfriend. I mean… he’s 39 years old, he is a man; not a boyfriend.

And that’s why… Taemin harus mencoba untuk berpikir lebih dewasa because he’s dating a fricking older man who’s 17 years older than him.

 

 

Dear, I fear we’re facing a problem

 

 

 

Perlahan, Taemin membantu pacarnya untuk membuka jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dan meletakkannya di atas meja yang dipenuhi oleh tumpukan mess papers. Okay, sebagai pacar yang baik, Taemin sangat ingin membantu merapikan meja ini, but he can’t. kertas-kertas itu adalah dokumen penting mengenai kasus dari klien pacarnya – he’s a lawyer, by the way. One time, ia pernah membereskan beberapa kertas berisi kasus, dan everything was mess up karena Taemin actually tidak sengaja mengubah runutan history kasus.

 

Sekali lagi Taemin melihat pacarnya yang sedang tidur nyenyak di sofa. Ia baru saja kecewa karena mereka tidak bisa bicara malam ini, padahal ia sedang membawa berita baik untuk didengar – he must be proud of Taemin if he heard this too, tapi mau bagaimana lagi? Ia pasti sampai tertidur di sofa karena sangat lelah mengurus kasus-kasus ini. lihat itu, dia bahkan belum sempat bercukur – ia bisa melihat ada sedikit rambut yang mulai bermunculan di dagunya.

 

Taemin lalu mengambil sticky notes di dalam tasnya, mengambil pena di atas meja, kemudian menulis sebuah memo to his man. Ini sudah hampir tengah malam, Taemin tidak mungkin menunggunya untuk bangun dari istirahatnya.

 

 

 

‘Daddy,

 

Aku datang dan daddy sudah tidur di sofa. Aku hanya ingin bilang, bahwa besok aku wisuda. Apa daddy bisa datang? Aku akan memakai toga, daaaaan! Aku akan memberikan speech hehe 😀

Maaf, handphone ku sedang rusak, aku membawanya ke service store, dan mereka bilang aku harus menunggu sampai kira-kira seminggu, jadi aku tidak bisa menerima dan mengirimi pesan untuk sementara waktu 😦

Miss you a lot :*

 

Your baby,

Taemin’

 

 

===

 

Sebagai mahasiswa yang mendapat penghargaan lulusan terbaik di fakultas Sains bioteknologi, Taemin mendapat banyak ucapan selamat dari teman-teman, senior, junior, bahkan orang tua teman-temannya juga ikut mengucapkan selamat padanya. Dan ia hanya bisa tersenyum lebar karena kedua orang tuanya tampak bahagia ketika melihatnya memakai toga. Mereka bahkan menangis ketika semua orang bertepuk tangan seusai Taemin membaca pidato yang ia sampaikan tadi. Dan tangisan mereka semakin mengharukan ketika nama Taemin dipanggil untuk menerima ijazah, dan diberikan reward sebagai lulusan terbaik dari fakultasnya.

 

Taemin sangat paham mengapa orang tuanya begitu terharu sampai menangis, meskipun kelihatannya sedikit hiperbola. Ia sadar karena kedua orang tuanya dulu tidak memiliki kesempatan untuk kuliah – mereka menikah di usia 21 tahun dan harus putus kuliah untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari ketika Taemin lahir. Mereka bahkan membuka toko buku kecil-kecilan untuk bertahan hidup – dan toko itu masih menjadi sember mata pencaharian mereka hingga saat ini.

 

 

“LEE TAEMIN!!!”

 

Laki-laki cantik itu menoleh, menemukan Key berlari ke arahnya bersama kedua orang tuanya yang menyusul menghampirinya.

 

“Taemin! Selamat! Kau benar-benar hebat tadi!” ucap Key, memeluk Taemin dengan riang.

 

“Thanks Key,” ucap Taemin, mengusap-usap punggung Key.

 

Mereka bisa mendengar suara kedua orang tua mereka tertawa melihat dua sahabat ini berbagi kebahagiaan di hari penting ini. kebetulan, ayah Key dan ayah Taemin, berteman sangat baik ketika mereka SMA.  Ayah Key bahkan adalah pelanggan pertama yang membeli buku di toko keluarga Lee ketika pertama berdiri. Ia juga mengajak teman-teman kuliahnya untuk membeli buku di sana dulu – that’s why mereka masih dekat sampai anak mereka pun bersahabat.

 

Tidak lama setelah mereka bercengkrama ringan, orang tua Key menawarkan untuk mengantar keluarga Lee pulang. Mereka harus kembali membuka toko, dan kebetulan ayah Key juga harus kembali bekerja, jadi mereka bisa pulang bersama.

Well, at least, mereka tidak mengajak Key dan Taemin ikut bersama mereka. Pembicaraan orang tua cukup membosankan, for your information.

 

 

“Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan nanti malam? Aku, Jina, dan Hayoon akan pergi minum-minum bersama untuk merayakan hari ini!” ucap Key setelah orang tua mereka pulang duluan.

 

“Bagaimana dengan Hyunji, Chaeri, dan Areum?” Taemin mengabsen nama teman-teman dekat mereka yang tidak diajak Key untuk minum bersama.

 

“Hyunji pergi dengan pacarnya ke Jeju. Chaeri bilang dia dan Jinsook – pacarnya – akan menginap di hotel malam ini. hey iya! Chaeri dengan bangganya mengatakan bahwa Jinsook sudah menabung sejak lama dari pekerjaan part time nya agar mereka bisa menginap malam ini di hotel mewah,” cerocos Key. “Sedangkan Areum bilang dia akan menonton konser bersama pacarnya. Haish, semua orang pergi bersenang-senang dengan pacarnya….”

 

Taemin terdiam. Ya, memang seharusnya seperti itu bukan? Semua orang pasti akan merayakan hari ini, entah itu bersama keluarga atau pacar. Tapi untuk Taemin… keluarganya harus bekerja setiap hari, sedangkan pacarnya sangat sibuk. look, ia bahkan tidak bisa datang ke acara penting seperti ini. but again, Taemin harus memaklumi itu.

Ia harus maklum kalau ketidak hadiran kekasihnya bukan karena unsur kesengajaan, tetapi karena ia sangat sibuk. lagipula di hari-hari sebelumnya, mereka sudah sering piknik bersama, ia juga pernah mengajak Taemin liburan ke Austria-Denmark-Venice selama sebulan sebelum Taemin sibuk dengan skripsi – and they had great time together at the moment.

 

 

“Bagaimana dengan… Minho?”

Suara Key membuat lamunan Taemin terhenti.

“Umm… i mean… your ‘daddy’.” Key memperjelas, mengingat bagaimana ia mengatakan bahwa Taemin adalah a lucky bitch karena memiliki sugar daddy yang begitu memanjakannya.

 

“Dia sibuk.” Taemin menjawab seadanya. Well yeah, mau bagaimana lagi?

 

“Heol? Jangan katakan dia tidak datang hari ini.”

 

Taemin menghela nafasnya. “Entahlah, Key. Aku jadi berfikir… bagaimana jika nanti aku sudah bekerja? Apakah hubunganku dengannya bisa tetap berlanjut? Selama ini dia selalu sibuk, dan aku terus menerus merindukannya. Tapi bagaimana nanti kalau aku sudah sibuk?”

 

“Ckckck…” Key berdecak. “Sepertinya sekarang kau sudah seperti ibu-ibu (?) yang khawatir untuk hal yang tidak pasti. Selama ini kau kan juga sibuk belajar dan bekerja di restoran.”

 

“Tapi kan di restoran itu pekerjaan part time. Aku juga sebentar lagi akan resign kalau aku sudah mendapat pekerjaan tetap,” elak Taemin.

 

“So? Kau mau menyerah dan mendapat pacar yang lebih muda atau pengangguran yang memiliki banyak waktu untuk selalu ada di sampingmu, begitu?”

 

“Bukan begitu! Yah! Aku kan sedang curhat! Kenapa kau malah memojokkanku?”

 

“Itu karena kau mengkhawatirkan hal bodoh yang belum – wait, bukankah itu Minho???”

 

Taemin segera menoleh ke arah pandang Key. Dan… benar saja. Astaga!!! It’s him!!

 

 

 

A man that surely deserves me

But I think you do!

 

Seketika semua kegalauan Taemin menguap dan berpencar ke segala arah. Pada jarak beberapa meter di hadapannya, Taemin bisa melihat dengan jelas Minho sedang berjalan ke arah mereka. Laki-laki tinggi itu tersenyum, sambil membawa seikat bunga mawar bersamanya.

 

Taemin tersenyum dengan lebar. Jika saja ini bukan kampus, ia pasti sudah berteriak ‘daddyyyyy!!!’ dengan riang, kemudian berlari dan memeluk pria itu.

 

“Hhhh… bitch, look at yourself. Tsk… benar-benar… sepertinya aku juga harus mencari sugar daddy agar aku bisa bahagia(?)” ujar Key.

 

 

 

Minho sampai di hadapan mereka berdua dan melempar senyum ke arah Taemin – well, meskipun ia sudah menatap Taemin sejak ia menuju kemari.

“Congratulation, baby. Maaf aku terlambat.” Minho bicara, menyerahkan bunga mawar yang dikemas dengan buket cantik pada Taemin.

 

“Thank you. Aku pikir kau tidak akan datang,” balas Taemin, menerima buket tersebut. Air wajahnya benar-benar berseri-seri melihat kekasihnya kini ada di hadapannya. you can tell that he’s really… really happy, even though his man was late.

 

 

 

Love me love me

Say that you love me

 

It’s my baby’s day. Aku pasti jahat jika aku tidak datang, aren’t I?”

 

“Hehe.” Taemin terkekeh malu. Ya, ia sedikit merasa bersalah karena berfikir Minho tidak akan datang.

 

“Bagaimana kalau kita makan malam nanti? Apa kalian punya rencana?”

 

Key yang sejak tadi menjadi third-wheel di dalam pembicaraan goddamn- smitten-and-mushy mereka pun angkat bicara. “Nope. We’re fine. Kau bisa membawanya kapanpun, ke manapun, dan dalam kondisi apapun. I’m cool with it, and kau juga bisa membawanya ke –“

 

“Shut up, Key!” Taemin menatap Key jutek. Ia tidak mau Key menyuruh Minho membawanya ke suatu tempat – i mean, Taemin akan senang jika Minho mengajaknya pergi atas keinginannya sendiri, bukan karena Key atau siapapun.

 

Laki-laki yang lebih tua hanya tertawa mendengar kedua sahabat ini berdebat. “Kalau begitu, apa kau mau bertemu teman-temanmu dulu lalu aku menjemputmu nanti malam?” ia menawarkan.

 

Again, memang dasar Key tidak peka, ia menabur merica (?) di antara adonan lembut (?) “Kenapa kau tidak pergi saja dengannya sekarang? Yah, Lee Taemin. Kau bilang kau terus-menerus merindukan –“

 

“KEY!!!!” Taemin menginjak kaki Key sampai laki-laki bermata sipit itu meringis.

 

 

“Aku harus mereview beberapa pekerjaanku. Apa kau tidak apa-apa berada di kantorku sebentar, baby?” Minho bicara, menengahi pertengkaran bodoh di antara Taemin dan Key.

 

Taemin hanya mengangguk kecil. “Hmm… tidak apa-apa.”

 

 

 

 

So… be it.

 

Taemin duduk manis di kantor Minho. ia diam menyeruput kopinya sambil menatap Minho yang sibuk mereview pledooi yang berlembar-lembar. Ia mencatat beberapa hal di buku agendanya, terkadang menchecklist di bagian-bagian tertentu dalam beberapa halaman, serta memberikan stabilo di beberapa keterangan-keterangan saksi yang memberatkan kliennya.

 

Tidak lama kemudian, handphone Minho berbunyi.

 

“Halo? Ya benar. Oh, apa anda Kwak Soochan? Oke. Saya sedang mereview pledooi Tn. Bang Haesan, dan saya diberi informasi oleh Tn. Bang, kalau anda ingin menemui saya sebagai back up team kami? Ya. Ya, saya sedang berada di kantor sekarang…” Minho menatap Taemin yang memandanginya. Dari raut wajah Taemin, ia sudah bisa membaca apa yang ada dalam pikirannya.

 

 

 

What I could have done in another way

To make you stay

 

 

 

“… hmm, sebentar…” laki-laki yang lebih tua kemudian bangun dari duduknya, kemudian berjalan keluar dari ruangannya. Ketika melewati Taemin yang tengah duduk di sofa – yang biasanya digunakan klien untuk berkonsultasi, Minho mengusap kepala Taemin dengan lembut.

 

Taemin diam. lagi, ia menghela nafasnya. Minho benar-benar sibuk akhir-akhir ini, bukan? Ia memang sudah pernah mengatakan pada Taemin bahwa ia akan sibuk selama beberapa bulan ke depan karena ia sedang dikontrak untuk memberi pembelaan pada kasus tuduhan penyelewengan dana pada perusahaan elektronik besar di Korea.

But still, Taemin tidak tau bahwa kasusnya akan menguras waktu Minho. ia harus mendampingi kliennya ketika interogasi, melakukan rapat dengan team pengacaranya yang lain, bertemu dengan klien berkali-kali untuk terus menggali akar permasalahan tuduhan ini bisa terjadi, bertemu dengan para saksi lain yang terkait sesuai permintaan klien, dan review pembelaan kliennya.

 

“Baby…”

 

Taemin menoleh, mendapati Minho duduk di sampingnya.

 

“Aku harus menemui klienku besok, dan… aku harus mengirimkan hasil review untuk anggota timku malam ini, agar besok bisa kami rapatkan bersama klien. Jadi…”

 

 

 

Fool me fool me

Go on and fool me

 

 

“Kita tidak bisa makan malam bersama nanti?” Laki-laki yang lebih muda itu menerka.

 

Minho mengangguk. “Maaf… kau pasti kecewa ya, baby?”

 

Tersenyum simpul, Taemin lalu menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku juga jadi memiliki waktu luang untuk membuat resume malam ini,” ucapnya, menyembunyikan kekecewaan di lubuk hatinya.

 

“Resume?”

 

Laki-laki cantik itu mengangguk. “Besok di kampus akan ada job fair. Aku berencana untuk mengirim lamaran ke beberapa perusahaan.”

 

Menaikkan alisnya, Minho lalu tersenyum. “Benarkah? Kau mau bekerja di mana? Perusahaan yoghurt? Susu pisang?” terkanya, remembering that they are his sugar baby’s favorite.

 

Taemin terkekeh. “Aku ingin mencoba masuk ke ranah medis. Mungkin industri farmasi adalah salah satu pilihan yang baik. Mereka melakukan penelitian tentang stem cell, atau kloning.”

 

“Karena kau sangat pintar, aku yakin mereka pasti akan mempertimbangkanmu,” sahut Minho.

 

Taemin mengangkat bahunya. “Siapa yang tau. akhir-akhir ini mencari pekerjaan sangat susah. Dulu seniorku yang lulusan terbaik juga ditolak oleh perusahaan. Mereka bilang ia tidak memiliki Curiculum Vitae yang baik.”

 

“Oh really?”

 

“Hmm…” Taemin mengangguk. “Daddy harusnya bersyukur karena dulu tidak sesulit sekarang mencari pekerjaan. Jadi sekarang daddy sudah bisa membeli tempat tinggal sendiri dan mobil, bahkan sudah memiliki tim pengacara yang hebat dan juga kantor firma hukum.”

 

Mendengar ucapan Taemin, Minho hanya bisa tertawa. “Aku juga berusaha keras sampai ke sini, baby. Apa kau pikir memiliki tempat tinggal, mobil, pekerjaan tetap, dan lainnya, itu menyelesaikan masalah hidup?”

 

Taemin mengernyitkan alisnya – ia berpikir. Sesaat kemudian ia mengangkat bahunya. “Setidaknya itu adalah impian semua orang yang ingin memiliki pekerjaan,” ujarnya jujur. Memang, ia tidak memiliki pikiran apapun saat ini selain memiliki pekerjaan untuk menjadi mapan, dan hidup dengan settle sehingga orang tuanya tidak perlu cemas dengan urusan finansialnya. Bahkan, Taemin sangat ingin bisa membelikan orang tuanya rumah yang lebih besar di Seoul suatu hari nanti.

 

“Kau akan tau suatu hari nanti. Untuk  bisa hidup settle, ada banyak hal yang harus kau korbankan,” gumam Minho pelan.

 

 

Wait. What?

 

Seketika Taemin termenung. Jika ia harus mengorbankan sesuatu… apa yang Minho maksud adalah hubungan mereka? Taemin mengerjapkan matanya sesegera mungkin, mencoba menghilangkan pikiran negatif yang bersarang di otaknya. Tidak mungkin, bukan?

 

“Ngomong-ngomong, di komputerku ada banyak contoh resume yang bagus. Beberapa tahun terakhir ini ada banyak mahasiswa fresh graduate yang mengirim lamaran kerja via email. apa kau mau melihatnya sebagai referensi?” Minho menawarkan.

 

“Ohya? Bolehkah?”

 

Minho mengangguk. “Tapi komputernya ada di rumahku. Aku memindahkan file selain urusan klien ke komputer pribadiku. Apa mau menginap di tempatku malam ini?”

 

 

 

Huh?

 

“Tapi… bukankah… daddy sibuk malam ini?”

 

Minho mengangguk. “Hmm. Tapi aku tidak menggunakan komputerku, jadi kau bisa memakainya untuk membuat resume. Aku juga punya printer kalau-kalau kau butuh untuk job fair besok.”

 

“Tapi… apa aku tidak mengganggumu?”

 

Mengernyitkan alisnya, Minho lalu mencubit pipi Taemin gemas. “Sejak kapan babyku mengganggu hidupku? Aku justru akan sangat senang ketika masih bisa melihatmu meskipun aku sibuk.”

 

Mendengar kalimat itu, Taemin hanya bisa menunduk sambil tersenyum, kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Minho sembari memeluk lengannya.

 

 

 

As long as you don’t go

 

 

 

“Daddy~~”

 

Mendengar nada suara Taemin yang manja, Minho tau ia tidak perlu menimpali apapun. Jadi, ia hanya menyibak poni rambut Taemin dan mengecup keningnya cepat. That would be enough to create the earthquake in Taemin’s heart.

 

 

 

 

Well, the mushy afternoon passes like a speed of light. Both of them now have to deal with their own business.

 

Taemin menyisir rambutnya setelah ia memakai piyama nya yang ia ambil di lemari Minho – ia meninggalkan beberapa pakaiannya di sini jika sewaktu-waktu ia menginap. Ia tidak mungkin meminjam pakaian Minho yang sangat monoton: kaos putih, hitam, biru dongker yang jarang ia pakai, dan puluhan kemeja putih yang merknya berbeda-beda tetapi tetap saja ia tidak bisa menoticed perbedaannya setiap kali Minho memakainya.

 

Karena Minho sangat sibuk, tidak jarang ia berganti pakaian ketika tidur. Taemin sering menemukannya tertidur di sofa dengan masih memakai kemeja putih dan celana kerjanya, atau bahkan masih lengkap dengan suit nya.

 

Laki-laki cantik itu menepuk-nepuk pipinya di depan kaca setelah ia memakai pelembab wajah. Ia lalu berjalan menuju meja komputer Minho.

“Daddy, apa passwordnya?” tanyanya sedikit berteriak pada Minho yang sibuk membaca di sofa ruang tengah.

 

“Lee Taemin.” Minho membalas.

 

“Ya???” Taemin menoleh ke belakang, menghadap sofa tempat Minho duduk yang membelakanginya.

 

“Passwordnya: Lee Taemin.”

 

 

“Oh…” ucap Taemin pelan. Ia lalu mengklik namanya di kolom password dan… terbuka. Seketika ia menutup wajahnya. Ugh, seriously, itu sangat memalukan untuk membuka komputer seseorang dengan password namamu! ( > /// < )

 

Hanya semenit Taemin mencari folder resume, ia sudah menemukan puluhan referensi. Dengan teliti, ia lalu mencontoh format CV dan application letter yang ada, dan membuka website pencarian kerja sambil mengirim file resume nya secara online. Ia pikir tidak ada salahnya sekalian mencoba untuk apply online untuk beberapa perusahaan yang sedang membuka rekruitmen pegawai.

Ia sibuk berkelana sana sini di internet mengenai lapangan pekerjaan, membookmark, melakukan download form, dan lain-lain. Sampai ia menyadari bahwa ia sudah 3 jam berada di depan komputer.

Buru-buru Taemin membuat sebuah folder di dalam local disk. Ia mengetik “ Baby’s file “ dan melakukan enter, but –

 

 

‘This destination already contains a folder named baby’s file’.

 

 

Taemin memiringkan kepalanya. ia tidak ingat bahwa ia pernah menyentuh komputer milik Minho – ini yang pertama kali untuknya. Apa jangan-jangan… Minho membuat folder untuk Taemin? Wait. Tapi untuk apa?

Dengan penuh penasaran, Taemin pun mencari folder dengan tile ‘ baby’s file ‘ tersebut dan… here it is.

Ia mengklik dua kali ke foto tersebut dan itu adalah folder foto.

 

Taemin mengernyitkan alisnya, ia mengklik foto paling atas dan menemukan wajah laki-laki yang tidak familiar di matanya. Ia terus menerus mengklik next untuk foto tersebut dan folder itu terus menampilkan foto-foto laki-laki yang tidak ia kenal itu.

 

 

 

Seketika Taemin menstop telunjuknya dari keyboard panah kanan. Pada foto ini… ia tidak salah melihat bahwa Minho ada di dalam foto ini, dan dia… sedang mencium pipi laki-laki tadi.

 

 

 

You love me no longer, I know

And maybe there is nothing

That I can do to make you do

 

 

Mata Taemin berkedip beberapa kali. hatinya bergemuruh. Siapa dia?

 

Ia mulai menarik nafas panjang, dan membuangnya pelan-pelan. Tidak, Taemin. Kau tidak boleh emosi. Coba pikirkan baik-baik. Siapa laki-laki ini.

Tapi, bagaimanapun ia melihat, ia tetap tidak mengenali laki-laki itu. ia hanya bisa menangkap bahwa laki-laki tersebut memiliki tubuh yang pendek dan kurus, ia memiliki mata yang besar, dan pipi yang kemerah-merahan. Dan Minho tengah mencium laki-laki itu di dalam foto ini.

 

Buru-buru Taemin mengclose folder tersebut. Dengan perasaan kacau, sambil terus meyakinkan dirinya untuk tetap tenang dan menanyakan ini pada Minho setelah ia tidak sibuk, ia kembali membuat folder untuk dirinya. Kali ini ia memberi title ‘ Taemin’s file ‘, kemudian memasukkan semua file-file penting miliknya ke dalam folder.

 

Ia menoleh ke belakang, dan menemukan Minho yang masih sibuk membaca paper paper – entah isinya apa. Ia lalu mendengar handphone Minho berbunyi, dan laki-laki itu mengangkatnya.

 

“Halo? Ya. Umm… apa? Aku tidak mendengarmu. Bisa kau kirimkan aku pesan saja?”

 

 

Taemin masih menatap Minho yang sibuk dengan handphone-nya. Ia diam selama 3 menit – literally, tanpa bicara, memperhatikan Minho. dan laki-laki itu masih sibuk mengirim dan membalas pesan tanpa henti.

 

Pikirannya semakin kacau. Bagaimana bisa Minho meladeni pesan seseorang di saat ia sibuk? dan lagi, ketika di telepon tadi, Taemin mendengar dengan jelas bahwa Minho bicara tidak dengan bahasa baku seperti ketika ia bicara dengan kliennya. Plus, ini sudah sangat malam untuk bicara masalah pekerjaan.

 

Apa dia…

 

 

 

 

 

…. selingkuh?

 

 

 

 

 

So I cry, I pray and I beg

 

Taemin menunduk seketika. Ia merasakan matanya mulai panas dan ini tidak bagus. Buru-buru ia membuka email melalui komputer Minho, dan mengirimkan pesan ke email milik Key.

 

 

 

‘To: kimkeybum@gmail.com

Cc: Read as soon as you open. IMPORTANT.

 

Key, handphoneku rusak jadi aku harus meminjam fasilitas lain untuk mengirimimu email. apa besok kau bisa datang ke job fair kampus? Kita bertemu besok ya. aku tidak mau ditemani Minho.’

 

 

 

 

 

Send.

 

Taemin lalu mengclose tabulasi internet dan mengirim file penting miliknya ke email pribadinya untuk diprint besok di perpustakaan kampus. SHIT. Ia bahkan terlalu tidak koheren untuk sekedar melakukan print. Yang ada di pikirannya adalah ia harus segera mematikan komputer dan tidur.

 

 

 

Finger cross, semoga saja Minho tertidur di sofa agar mereka tidak perlu bicara malam ini. paling tidak, Taemin harus menenangkan diri dulu dan memikirkan apa yang harus ia lakukan jika kemungkinan terburuk di pikirannya terjadi.

 

 

 

Lately I have desperately pondered,

Spent my nights awake and I wonder

 

 

 

 

Taemin terus mencoba memejamkan matanya untuk tidur, tapi ia tidak bisa. Ugh! Air mata ini sangat mengganggu. Ia benci harus menangisi sesuatu yang bukan salahnya, tapi rasanya sakit sekali. Dan hal yang membuatnya semakin sedih adalah, ketika ia sedang merasa sakit hati, pikirannya masih tidak lelah untuk berpikir hal-hal yang tidak ia inginkan.

 

Jika saja laki-laki itu pacarnya, mengapa ia menggunakan nama Lee Taemin sebagai password komputernya? Oke. Tapi bagaimana kalau laki-laki itu selingkuhannya? Itu mungkin saja terjadi. Lagipula mereka sudah jarang kencan akhir-akhir ini. kalaupun mereka ke kedai kopi, atau sekedar membeli mac and cheese kesukaan Taemin melalui drive thru, Minho tidak banyak menceritakan soal dirinya kecuali ia harus pergi meninggalkan kencan mereka dengan alasan pekerjaan. Ia juga terlambat datang ke acara wisuda Taemin tanpa memberi alasan mengapa ia terlambat. Oke, tentu saja ia akan bilang masalah pekerjaan.

 

 

Reason will not lead to solution

I will end up lost in confusion

 

Pikirannya semakin berkecamuk. Selama ini Minho memanggilnya ‘Baby’ dan Taemin selalu berbunga-bunga seperti orang bodoh karena senang dengan panggilan manis itu, tanpa ia tau, bahwa ada orang lain yang Minho panggil ‘Baby’ sama seperti ketika ia memanggil Taemin. Fakta bahwa Taemin senang untuk sesuatu hal kecil seperti itu membuatnya terlihat menyedihkan.

 

 

Love me, love me

Pretend that you love me

Leave me, leave me

Just say that you need me

 

 

 

AAAAH entahlah!!!

 

Taemin lalu meletakkan posisi kepalanya di atas bantal dan mengambil apapun di sekitarnya untuk menutup wajahnya – sekaligus mengelap air matanya yang jatuh. Ya sudahlah, lebih baik ia menangis sekarang daripada ketika mendengar penjelasan Minho – dan entah kapan ia bisa memiliki waktu.

 

 

“Hu… hu… Choi… Minho… ja – hat. Hiks…”

 

Ia memiringkan tubuhnya sambil memeluk bantal. Mungkin dengan posisi ini ia bisa tertidur – hopefully. Ia terus mencoba bernafas di tengah-tengah sesegukan sambil tetap menenggelamkan kepalanya di bantal pelukannya.

 

 

Sampai…

 

 

 

 

 

 

“Apa kau baru saja mengatakan aku jahat?”

 

 

 

 

Ugh.

 

Taemin terdiam seketika.

 

 

 

 

I can’t care ’bout anything but you…

 

What the hell?

 

 

 

 

 

 


 

tell me what to do with this shit HAHAHAHHAHAHA i swear the original plot was flat but this happened when i wrote -_-

Hopeless Heart – 2min – 1shoot

Heeeey

 

Aku telaaaaat banget bikin ini hahaha.

FF ini requestan dari Dyan Lullaby a.k.a Dyan. dia mintanya udah lamaaa sebelum SWC V INA booo dan aku baru bikinin sekarang T__T maafkan aku.

padahal dyan sudah ngeplot aku tinggal nulis gahgahgshagdjhgjhad masih aja kena writer’s block LOL

dan maaf banget dyan ini ngga semua yang kamu bilang kepenuhi. ada beberapa yang aku cut, unmentioned, etc T^T sorry

made this not so quick but i was stuck in many many many scenes.

btw aku ngeresearches some things so I hope you all give feedback! *curse in spain* HAHA JOKING xD

 

 

 

Hopeless Heart

cast: 2min, others

author: flamingaze

 

 

BGM : Tori Kelly ft. Ed Sheeran – I was Made For Loving You

please listen to this song 🙂

 

 

 

 

Home

 

“Lee Taemin-ssi!”

 

Taemin, laki-laki yang tengah membereskan meja kerjanya itu menoleh mendengar namanya dipanggil oleh rekan kerjanya yang sedang berjalan menghampirinya.

“Kim Jonghyun-ssi. Ada apa?” ia menjawab dengan senyum manis.

 

“Jam berapa kau akan ke Busan?”

 

Taemin menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Aku sudah membook kereta untuk sore ini, karena besok aku harus ke kantor cabang.”

 

“Okay…” Jonghyun, laki-laki yang lebih pendek itu menyerahkan amplop cokelat. “Aku titip ini untuk tuan Kim, kepala finance di sana. Kemarin dia memintaku untuk mengeprint data keuangan kantor cabang Busan bulan lalu karena sistem mereka rusak dan datanya hilang.”

 

“Oh baiklah.” Taemin mengambil amplop cokelat tadi.

 

“Untung saja dia sudah mengirimkan kantor pusat laporan keuangannya. Kalau tidak bisa kacau,” ucap Jonghyun, sedikit mengeluh. “Makanya, kau juga harus memback up semua data yang penting.”

 

Taemin mengangguk sopan, kemudian membiarkan Jonghyun berlalu setelah berterima kasih padanya. Ia menghela nafasnya sedikit kemudian keluar dari ruangannya. Sistem perusahan tempat ia bekerja memang sedikit rumit. Umumnya, perusahaan pencari bakat berpusat di Seoul, tapi perusahaannya; La Strenna Entertainment – people called them LD – mereka menggunakan sistem cabang di beberapa region, termasuk Busan, dengan pusat di Seoul. Semua ini terjadi sejak pergantian direktur utama dan honestly, not gonna lie, that it works better. Dengan adanya cabang, mereka bisa meraup untung lebih banyak karena mereka yang ingin menjadi trainee sejak kecil menjadi lebih mudah mendapatkan akses. Meskipun, as we know, semua itu butuh pemantauan. Dan karena Taemin bertugas untuk memantau perkembangan para trainee yang ada di kantor cabang Busan, mau tidak mau ia harus menyempatkan diri untuk ke Busan setiap sebulan sekali.

Hari ini adalah hari di mana Taemin harus memantau di Busan. Hal yang menyenangkan ketika ia harus ke Busan adalah, karena orang tuanya tinggal di Busan, jadi ia tidak perlu repot mencari hotel atau memikirkan kapan ia harus makan dan hal-hal basic lainnya.

 

 

Seperti biasa, sebelum packing, ia mampir di suatu tempat, membeli sesuatu untuk orang tuanya. Biasanya, ia akan membeli kue kering di Dunkin Donut di stasiun. Tapi kali ini karena ia tidak seburu-buru biasanya, Taemin memutuskan untuk mampir ke Tous Les Jours.

 

Kebetulan saat itu sedang jam makan siang, jadi toko sedang cukup ramai pengunjung. Tanpa berpikir lebih lama, Taemin memutuskan untuk memesan satu kotak bread and buns – sweet potato bakery, dorayaki, dll., untuk keluarganya di Busan dan satu kotak pastry untuk buah hatinya.

 

Taemin baru saja mengambil kartu kreditnya yang dikembalikan oleh kasir dan mengambil dua kotak pesanannya ketika ia mendengar suara laki-laki yang cukup familiar di sekitarnya.

So he turned around, and look at that man who were asking about some pastries to the front-desk worker.

 

 

A dangerous plan, just this time

A stranger’s hand clutched in mine

 

 

 

 

He’s Minho.

 

.

.

.

 

 

 

 

“Sial!” Taemin menggerutu ketika angin berhembus ke arah dirinya dan membuat mapnya terjatuh, kertas-kertasnya berserakan di jalanan kampus.

 

Fakultas Bahasa dan Seni masih 500 meter dari tempat ia terjatuh, dan tidak ada satu orang pun yang berniat untuk membantunya memunguti kertas-kertas yang berserakan di jalanan. Ya sudahlah, mungkin memang tidak ada yang membantunya karena ini di fakultas ekonomi, jadi tidak ada yang mengenalnya di sini.

 

 

 

Sampai satu orang…

 

“Thanks…” Taemin hanya bisa mengatakan terima kasih kepada seseorang yang tiba-tiba melintas dan mengambil beberapa kertas yang berserakan di bawah, kemudian mengembalikannya.

 

“No problem!” Laki-laki berkulit cerah itu tersenyum manis. “Kau mahasiswa baru?” tanyanya.

 

Taemin menggeleng. “Tidak. Aku mahasiswa fakultas bahasa dan seni,” jawabnya tersenyum ramah.

 

“Oh…”

 

“Hey Jinki!”

 

Suara itu membuat laki-laki di hadapan Taemin menoleh. “Sorry, aku harus pergi. Aku ada ujian!”

 

Taemin tersenyum dan mengangguk. “Good luck!” ucapnya, kemudian pergi setelah Onew berlalu menghampiri temannya dan masuk ke gedung fakultasnya. Tanpa berfikir panjang, ia lalu berlari ke gedung fakultasnya untuk menghadapi ujian.

 

 

 

Dan ujian hari itu… rasanya sangat awful.

 

 

 

“Hhhh…” Taemin menghela nafas panjang, mengingat bagaimana kacau dirinya saat mengerjakan essay hari ini. ia duduk di perpustakaan umum dan membaca buku – bahkan menolak ajakan Jimin, sahabatnya, untuk pergi karaoke karena ini hari terakhir ujian mereka. Ia tidak bisa berkaraoke dalam keadaan di mana ia tau bahwa ujiannya tidak lancar, dan seolah menyukai rasa stress ini, ia datang ke perpustakaan untuk membaca beberapa buku sastra.

 

“Lelah namun cemas… dalam waktu yang terus berlari… adakah harapan…? kapan aku bisa mengenalnya…”

 

Taemin mengedipkan matanya beberapa kali, mendengar sebait puisi yang ia buat. Ia menoleh, menemukan seorang laki-laki yang tidak pernah ia temui tengah membawa buku kecil yang ternyata adalah… miliknya! OMG?!?! How can????

 

“Ini milikmu?” Laki-laki itu bicara, duduk di samping Taemin.

 

Buru-buru Taemin mengambil bukunya, lalu mengangguk. Ia sangat nervous. Ia berharap bahwa laki-laki ini tidak membaca semua tulisannya. Sangat memalukan!

 

 

“Bagaimana bisa kau memiliki ini?” tanya Taemin dengan ragu.

 

Laki-laki tinggi itu menaikkan satu alisnya, kemudian tersenyum. “Onew.”

 

 

 

Onew?

 

“Temanku, Onew… tidak, maksudku, Lee Jinki. Dia bilang hari ini bertemu denganmu di depan fakultas dan kau menjatuhkan ini. Ia ada keperluan mendadak jadi ia memintaku mencarimu dan mengembalikan ini.”

 

Diam-diam Taemin menghela nafasnya lega. “Oh… ya, temanmu membantuku pagi ini. tolong sampaikan terima kasih juga karena mengembalikan buku ini.”

 

“Hey, tidakkah kau pikir kalau seharusnya terima kasih itu untukku?” laki-laki itu bicara dengan nada bercanda.

 

Taemin tertawa kecil. “Baiklah. Terima kasih untuk Lee Jinki, dan juga terima kasih untukmu –“

 

 

“Choi Minho.”

 

“Okay. Choi Minho. terima kasih.”

 

Minho, laki-laki itu tersenyum. “You’re welcome, Lee Taemin.”

 

Taemin mengernyitkan alisnya. “Wait. Bagaimana kau bisa tau namaku?”

 

“Kau menulisnya. Di puisi ke tiga.”

 

“Oh… ya aku memang menulis –“

 

 

 

Wait. If that so…

 

 

“Kau… membaca puisiku?” Taemin bertanya skeptis – he’s really… really worried.

 

Minho, laki-laki itu tesenyum menampilkan giginya yang rapi. Ia mengangguk, membuat Taemin malu karenanya.

“Aku tidak mengerti mengapa puisimu selalu menggambarkan kesedihan. Tapi aku pikir… they are beautifully written…”

 

 

Huh?

 

Taemin tidak pernah menyangka bahwa seseorang memuji puisi buatannya bagus. Memang, selama ini ia menyembunyikan buku ini untuk dirinya sendiri, untuk menulis semua isi pikiran dan hatinya, tanpa berfikir bahwa akan ada seseorang yang membaca. Dan ia lebih tidak menyangka lagi, bahwa puisinya akan dibaca oleh seseorang yang tidak ia kenal dan orang itu memujinya.

 

 

I’ll take this chance, so call me blind

I’ve been waiting all my life

 

“T – thanks…” ucap Taemin malu. Mungkin karena ia baru saja membiarkan – tidak sengaja, tentu saja – seseorang untuk membaca puisinya.

 

“Kau terlihat seperti orang yang sangat baik. Aku harap suatu hari kau memiliki harapan jadi kau bisa menulis puisi yang menceritakan betapa senangnya kau saat menulis – dan aku harap kau bisa tersenyum saat menulisnya,” ucap Minho, sebelum akhirnya ia berbalik untuk pergi.

 

 

 

“Choi Minho?”

 

Taemin seketika diam ketika ia tidak sengaja memanggil nama laki-laki tinggi dengan jaket baseball yang hampir berlalu dari hadapannya. dan ketika laki-laki itu menoleh, dengan ragu ia mengatakan,

 

 

 

“… a boy… and his smile… and his light step… a poem… on the bulletin board… soon will posted… be grateful… but not overwhelmed… it’s honest… maybe since you stated… it’s a happy one.”

 

 

 

Silence.

 

Taemin mengutuk dirinya dalam hati. The shit! Ia baru saja membuat impromptu puisi – sometimes ia terlalu banyak berfikir untuk mengatakan sesuatu directly, tetapi sometimes itu terlalu dramatis untuk didengar dan ia pikir kali ini ia melakukan sesuatu yang bodoh –

 

But hey! Minho tersenyum setelah – sepertinya – ia berhasil mencernanya.

 

“Bulletin board fakultas ekonomi ada di dekat ruang administrasi mahasiswa.” Minho bicara, sebelum ia pada akhirnya benar-benar pergi.

 

Please don’t scar this young heart

Just take my hand

 

Taemin seketika duduk di kursinya, kemudian membaca puisi pertama yang ia tulis – puisi yang membuatnya tidak ingin ada seorangpun yang membaca.

 

 

‘ Orang membatasi cinta,

Hanya karena keadaan,

Karena mereka Adam atau Eve,

Meski keadaan hanya untuk mereka yang buta,

Namun aku berdiri di antara kabut,

Di antara keadaan,

Mungkin aku berkepala angin,

Karena tidak bisa mencinta seperti mereka ‘

 

 

Tanpa berfikir dua kali, Taemin tersenyum, kemudian menulis di halaman kosong bukunya,

 

 

‘ Terbentur fakta,

Aku paham,

Berbeda lalu dusta,

Kemudian godaan,

Kecil jika terucap,

Kau adalah tombak,

Dan aku papan,

Putuskan dinding tebal,

Aku miliki harapan’

 

 

Every bone screaming I don’t know what we should do

All I know is, darling, I was made for loving you

 

.

.

.

 

Kenangan masa lalu mengenai bagaimana mereka bertemu itu terputus ketika Taemin melihat seorang anak kecil datang menghampiri Minho. anak laki-laki yang usianya kurang lebih 5 tahun itu kemudian memeluk Minho ketika Minho menggendongnya.

 

Membuang muka, Taemin lalu buru-buru melangkah keluar dari toko roti tersebut. Ia melangkah sedikit dan dari dinding kaca toko, ia menoleh, melihat Minho sekali lagi. Kali ini, ada seorang perempuan datang menghampirinya. Dan perempuan itu… sedang hamil.

 

Anak laki-laki yang berada di gendongan Minho tersebut menunjuk-nunjuk sesuatu dan Minho hanya mengangguk, lalu mencium pipi laki-laki kecil itu. that’s what Taemin witnessed before he finally walked home.

 

 

 

 

 

 

“Daddy!!”

 

Taemin segera tersenyum ketika melihat perempuan paling ia cintai di dunia itu berlari ke arahnya dan segera memeluk tubuh rampingnya saat ia masuk ke dalam apartemennya.

 

I won’t scar your young heart

Just take my hand

 

“Aigoo Ahyeong-ah!” Laki-laki itu dengan segera menyambut pelukan putri kecilnya.

 

“Ayah pulang cepat apa mau ke rumah nenek?” tanya Ahyeong dengan nada yang menggemaskan.

 

Taemin mengangguk. “Anak ayah memang pintar menebak.”

 

“Ayaaah, aku mau ikut ke rumah nenek! Boleh ya?” bujuk gadis kecil itu. ia tau jika ia pergi ke rumah neneknya ia bisa memakan apa saja tanpa larangan ayah dan ibunya, dan itu adalah kesempatah baginya untuk meminta cokelat dan es krim dalam jumlah banyak.

 

“Tidak bisa, sayang. Ayah harus bekerja. Menginap di rumah nenek pun hanya semalam. Nanti Ahyeong capek jika harus ikut ayah,” jawab Taemin.

 

“HUUUUU! IBUUUUUU!!! AYAH JAHAT!” gadis itu segera melepas pelukan Taemin dan memeluk boneka teddy bearnya sambil berlari ke arah ibunya – merajuk.

 

 

Ckckck. Taemin hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya tersenyum ketika melihat istrinya menggendong putri manjanya dan mengusap-usap kepalanya, lalu tertawa ke arahnya.

 

“Oppa, apa tidak bisa –“

 

“Naeun, jatah cutiku sudah habis. Aku hanya bisa menginap semalam dan dia pasti rewel kalau harus kembali besok sore.”

 

 

Naeun, wanita cantik itu hanya mengangguk. Ia sungguh mengerti pekerjaan suaminya, bagaimana pun, ia harus membantu Taemin membujuk Ahyeong agar tidak ikut pergi ke Busan.

“Ahyeong, bukankah besok kau akan pergi ke acara ulang tahun Jinsang? Kalau pergi ke rumah nenek kau tidak bisa datang untuk memberinya selamat,” ujarnya, sembari mengusap-usap punggung putrinya yang tengah memeluknya, merengek. Jinsang adalah anak laki-laki yang tinggal satu bangunan dengan mereka – satu lantai di atas apartemen mereka.

 

Ahyeong, gadis kecil itu mengucek matanya yang basah. “Tapi aku kangen nenek…”

 

“Hey, putri ayah yang cantik… bagaimana kalau minggu depan waktu ayah libur kita pergi ke Busan bersama-sama? Nanti kalau bertemu nenek, ayah akan bilang kalau Ahyeong akan berkunjung, jadi nenek dan kakek bisa menyiapkan makanan untuk Ahyeong.” Taemin bicara, menekan hidung putrinya dengan gemas.

 

“Benarkah? Tapi ayah janji kan? Paman Taesun juga ikut? Bagaimana dengan Bibi Boyoung? Woojin oppa?” Ahyeong menyebut keluarga ayahnya satu persatu, bahkan sampai istri dan anak dari kakak laki-laki Taemin.

 

Tertawa kecil, Taemin lalu mengecup pipi Ahyeong lembut. “Ayah akan mengajak mereka semua. Apa kau puas?”

 

Gadis kecil itu hanya mempoutkan bibirnya lucu. Sebenarnya ia suka dengan ide itu, hanya saja ia tidak ingin terlalu lama menunggu – she’s so spoiled. To be honest, sifatnya yang seperti ini sangat mirip dengan Taemin ketika ia lebih muda dari usianya yang sekarang.

 

“Nah, sekarang berhenti merengek pada ibu dan makan kue ini? ayah membelikan satu kotak untuk Ahyeong. Satu kotak untuk nenek.”

 

Wajah Ahyeong seketika berbinar-binar ketika melihat kotak kue dari Taemin. “Ibu! Aku mau makan kue! Turunkan akuuuu!”

 

Yah. Coba lihat tingkah lakunya. Ia benar-benar sangat inosen.

 

 

 

 

 

 

“Terima kasih.”

 

Taemin kembali memasang headsetnya ketika petugas kereta api selesai mengecek tiket keretanya. Ia menatap keluar jendela, melihat langit yang sudah dihiasi warna keemasan. Menghela nafasnya berat, ia tidak ingin mengingat pertemuan tanpa sengajanya dengan Minho di bakery sebelumnya, tapi bagaimanapun –

 

Drrrt.

 

Seketika ia berhenti melamun ketika musik yang ia dengarkan putus karena Hpnya berdering – ada panggilan masuk.

 

‘Home’

 

Ia tidak berfikir dua kali sampai mengangkat panggilan dari rumahnya di Busan. “Halo?”

 

Rupanya… Taesun?

 

“Iya, aku sekarang sedang di jalan.”

 

Huh?

 

“Aku baik-baik saja hyung. Jangan khawatir. Aku sebentar lagi akan sampai kok.” ucapnya. “Okay… see you hyung… haha… Miss you too.”

Tersenyum kecil, ia melihat layar handphonenya yang berubah menjadi wallpaper gambar Ahyeong. Ia tidak habis pikir mengapa Taesun tiba-tiba menjadi sentimental begini. Mungkin karena bulan lalu mereka belum sempat bertemu – bulan lalu saat Taemin ke Busan, Taesun sedang ada pelatihan di pedesaan.

 

 

I’ve been waiting all my life

 

 

However, ia memutuskan untuk memejamkan matanya. Masih ada waktu satu jam hingga keretanya sampai di Busan.

 

 

 

 

 

 

Taemin tersenyum ketika menekan bel apartemen keluarganya. Ia memperbaiki posisi ransel berisi pakaiannya, dan memegang kotak kue dengan erat. Meskipun ia tau ibunya pasti mempersiapkan makan malam untuknya, tapi ia selalu suka melihat ekspresi orang tuanya ketika memakan makanan manis seperti ini.

 

“Taemin!”

 

Pintu apartemen segera dibuka dan ia langsung menemui wajah Taesun.

 

“Hyung!!”

 

Mereka segera berpelukan melepas rindu karena hampir dua bulan tidak bertemu – meskipun mereka sangat jarang melontarkannya dengan kata-kata, tapi sejak kecil mereka sangat dekat, jadi itu cukup wajar kalau mereka merasa rindu satu sama lain ketika mereka tidak bertemu dalam waktu cukup lama.

 

“Astaga, apa kau tidak lelah? Ayo masuk!” ajak Taesun.

 

Taemin mengangguk. “Hyung, apa Boyoung noona dan Woojin tidak ikut?” ucap Taemin, basa-basi, sambil melepas sepatu ketsnya.

 

“Tidak. Mereka ada di rumah karena Woojin besok akan masuk sekolah.”

 

Mereka beriringan berjalan menuju ruang makan – seperti biasanya.

 

 

 

“Oh…. begitu. Ngomong-ngomong, tadi aku menjanjikan Ahyeong bahwa minggu depan kita bisa piknik –“

 

 

 

 

 

Seketika kalimat Taemin terputus ketika melihat pemandangan di meja makan.

 

“Apa aku harus menuangkan – oh! Hi, Taemin!”

 

Taemin, laki-laki itu hanya bisa menelan ludahnya. Ia tidak menyangka kalau… Minho ada di rumahnya. Iya! That’s Minho!

 

 

Cause I was made for loving you

 

 

 

Taemin tidak bicara. Ia hanya mencengkram kotak kuenya erat-erat. Ia tidak salah mengingat bahwa last time ia melihat Minho ada di rumah orang tuanya adalah ketika Minho datang berkunjung dan mendengar berita bahwa Taemin akan dinikahkan dengan seorang gadis yang baru saja lulus kuliah bernama Son Naeun.

Ia masih ingat bagaimana raut wajah Minho yang menahan ekspresi – entah apapun yang bisa ia tunjukkan saat itu – saat ibunya mengatakan itu dengan langsung di hadapan Minho, seolah memberi isyarat agar ia berhenti berhubungan “terlalu-dekat” dengan Taemin. Yeah, afterall, she’s a mother, dan mereka adalah penganut agama yang taat. Meskipun Taemin tidak pernah menceritakan bagaimana hubungannya dengan Minho secara jelas, tetapi dari gerak-gerik yang ‘not-so-obvious’ mereka saat itu, ibu Taemin sudah bisa membaca bahwa ada yang tidak beres dari mereka berdua, hingga ia memutuskan untuk menjodohkan Taemin dengan anak temannya. Dan Taemin tidak bisa mengatakan apapun selain menerimanya.

 

 

 

But now… how can….????

 

“Taemin, ayo duduk!” Laki-laki yang paling tua di ruangan tersebut – ayah Taemin, mengajaknya dan Taesun duduk di meja makan.

 

Dengan awkward, Taemin lalu meletakkan kue yang ia beli tadi di pinggir meja. Ia lalu duduk di samping Minho – still awkward, by the way.

 

“Bagaimana kabarmu?” Minho bertanya, casually.

 

“Aku… baik.” Taemin menjawab, lalu mengedarkan pandangannya ke ruangan. Ia menghindari kontak mata dengan Minho – itu tidak akan bagus di hadapan orang tuanya.

 

Ibu mengundangnya kemari waktu kau menelepon akan pulang ke Busan hari ini…” ibu Taemin bicara, membuat Taemin menjadi semakin bingung.

“Kalian kan dulu sangat dekat… tapi entah kenapa jadi tidak pernah bertemu. Ibu dan ayah juga sudah lama tidak bicara dengan Minho, jadi tidak ada salahnya kalau kita bereuni.”

 

Taemin mengernyitkan alisnya. ia tidak bisa memberikan ekspresi atau respon lain selain tampak semakin bingung. Jujur saja ia tidak menyangka bahwa ibunya yang memiliki inisiatif untuk mengajak Minho makan malam di rumahnya. He thought that his mom hated Minho….

 

“Minho bilang kalian masih sering berbicara…”

 

 

Taemin mengalihkan pandangannya ke arah Minho. pupil matanya sedikit membesar, seolah mengatakan ‘aku-tidak-percaya-bahwa-kau-mengatakannya-pada-ibuku’ dan Minho hanya tersenyum sebagai balasannya.

 

“… syukurlah kalau begitu. Jadi ibu juga tidak sungkan untuk mengundangnya makan malam bersama…” lanjut ibu Taemin.

 

 

“Terima kasih, Ny. Lee. Jujur saja aku juga sudah cukup lama tidak mencicipi masakan enak ini. dan ternyata benar, rasanya masih tetap enak.” Minho bicara, membuat ibu Taemin tertawa. Ugh, he is indeed a sweet talker.

 

Laki-laki yang paling muda itu hanya diam dan memakan makan malamnya. Dan makan malam pun berjalan dengan santai – maybe, kecuali Taemin yang masih merasa ini semua surreal.

 

 

 

 

Every bone screaming I don’t know what we should do

 

 

 

 

“So… mind to explain?” Taemin memperlambat langkahnya setelah ia dan Minho berdiaman selama berjalan ke swalayan dan kembali – mereka pergi untuk membeli beberapa kaleng bir dan dibawa pulang.

 

“Aku rasa ibumu sudah cukup menjelaskan?” Minho membalas. Ia begitu santai dan Taemin kesal karenanya.

 

Ia menghela nafas. “Ok. But… bagaimana bisa kau memberitau ibuku bahwa kita masih sering bicara?” sahut Taemin. Ia tidak terima dengan jawaban singkat Minho.

 

“Taemin, aku tidak mengatakannya. Ibumu yang meneleponku dan menanyakan kabarku, dan aku pikir ini suatu yang aneh juga. Lalu ia bertanya apa aku dan kau masih sering bertemu, dan aku hanya bisa bilang yang sejujurnya – which is yes, we meet frequently, we communicate too.”

 

“Couldn’t you say no? Or not really, maybe?”

 

Laki-laki yang lebih tinggi itu tertawa. Ia memasukkan satu tangannya ke saku celananya. “Kau dan aku bekerja di company yang sama. Bagaimana bisa –“

 

“But you’re CEO, dan aku ada di bagaian review untuk kualitas kantor cabang. It does make sense kalau kita tidak sering bertemu, Minho. it really does.”

 

Minho diam sejenak, and so does Taemin.

 

 

 

“You should have heard how your mom’s voice when he called me, Taemin. Aku tidak bisa berbohong padanya. In fact, honestly, aku juga sudah lelah menghindari teleponnya.”

 

Taemin melebarkan matanya tidak percaya. “Apa kau baru saja mengatakan… ibuku mencoba menghubungimu beberapa kali?”

 

Laki-laki yang lebih tinggi itu mengangguk, membuat Taemin semakin heran. “Aku pikir ia akan menyuruhku menjauh – lagi – darimu seperti ketika ia mengatakan kau akan menikah years before…” ucapnya, menunduk sebentar, kemudian kembali menatap wajah Taemin. “… but it was not. this time… dia terdengar seperti… memintaku kembali untuk membahagiakanmu.”

 

I was made for loving you

 

Taemin mengalihkan pandangannya, tertawa pahit. “Don’t make it sound like it’s a hopeless, Minho.”

 

But it is, Taemin. I mean, it was. Hubungan kita, selama ini hanya kita berdua yang tau. kau bahkan tidak bicara pada istrimu, dan aku tidak bicara soal kau di hadapan istriku. We acted like we’re strangers when we met to each others ketika kau bersama istriku, atau sebaliknya, atau bahkan keduanya. What do you name it if it’s not a hopeless heart, Lee Taemin?”

 

 

 

Even though we may be hopeless hearts just passing through

 

 

Again, Taemin membuang mukanya dari hadapan Minho. ia benci bagaimana kalimat Minho itu benar. right. Their love, their relationship, their heart, were hopeless. And it sounds so miserable because when they both know that it’s hopeless, they still choose to love each other secretly – just for both of them.

 

Every bone screaming I don’t know what we should do

 

 

Taemin tidak sempat merespon kalimat Minho ketika ia merasakan Minho membawa Taemin ke dalam pelukannya. “You should know Taemin… that I really wanted to hug you since we met tonight because… finally, ibumu tidak akan mengusirku dari rumahnya…”

 

Hanya kekehan kecil dari Taemin, as he leaned his head on Minho’s shoulder, and let his tears down on his cheek. Ia tidak bisa menjelaskan mengapa ia menangis. It’s just… ia tau bahwa hubungan mereka tidak bisa diterima bagaimanapun, dan mereka masih saling mencintai and at the same time, mereka sudah memiliki orang lain di dalam hidup mereka masing-masing. Bahkan memberikan pelukan hangat, which is a basic physical interaction between a couple, seperti ini saja sangat susah – mereka tidak bisa melakukannya secara spontan.

Kau pasti mengerti rasanya, ketika ada satu orang saja yang tidak akan memisahkan mereka dari pelukan ini, itu adalah sesuatu hal yang sangat mereka syukuri. Meskipun, mungkin… itu akan menggores luka untuk beberapa orang, but still, it’s a moment they should appreciate – because this is what a hopeless heart looks like.

 

Please don’t go, I’ve been waiting so long

 

 

 

“Taemin…”

Minho memanggil Taemin, as they broke the hug.

 

“Uhm?” Taemin merespon. Ia lalu tersenyum sambil menekan punggung tangannya di pelupuk matanya yang basah.

 

“Mau memegang tanganku sambil berjalan pulang?”

 

 

Hold me close through the night

Don’t let me go, we’ll be alright

 

 

 

Taemin tersenyum simpul. “Cold but warm, lamps in night, walk me home, hold my hand…” ucapnya.

 

 

Touch my soul and hold it tight

 

 

“You’re still this poetic…” Minho terkekeh, mengambil tangan Taemin ke dalam genggamannya.

 

“Does it sounds so cheesy?”

 

“I’m melted though. Like a mozarella,” canda Minho.

 

“Hahaha! You prankster!” Taemin menusuk pipi Minho.

 

“Minjae sangat suka keju mozarella, btw. Pantas saja dia semakin berat…”

 

Huh?

 

 

“What?” Minho menoleh ketika Taemin menghentikan langkahnya – their hands still twirled by the way.

 

“Aku melihatmu di bakery hari ini. Bersama Minjae dan Joohyun – istrimu. Jawab aku, apa dia hamil?”

 

Minho menaikkan alisnya, kemudian mengangguk. “Kami akan punya anak laki-laki lagi.”

 

 

Taemin diam.

 

Tak lama kemudian, Minho tersenyum. Oh come on, ia sudah sangat mengerti bahkan ketika Taemin tidak bicara apapun – they have been together about 10 years.

 

“Taemin, I swear. I was drunk… I was completely… drunk – I don’t even remember anything at the moment. And… goaaaal! I accidentally score a baby.”

 

Taemin berdecis, kemudian ia tertawa kecil. Look at him. Minho selalu tau bagaimana membuat big things menjadi sesuatu yang funny – which you don’t even take it seriously. Shit, why is he in love with this jokster so bad?

 

 

“Kau harus menikahkan Ahyeong dengan Minjae 20 tahun lagi? Maybe 25 tahun lagi?” Minho bicara, as they walk again.

 

“WHAT? Tidak. Aku… ugh, okay. Aku hanya tidak bisa membayangkan ia menikah dengan seorang laki-laki…” Taemin merespon.

 

“Aku lihat Ahyeong sangat mirip denganmu dan Minjae sangat mirip denganku. Kita bisa melihat bagaimana wajah anak kita(?) jika nanti mereka punya anak.”

 

Dan mereka tertawa bersama.

 

 

 

All I know is, darling, I was made for loving you

 

 

 

 

“Sayang… apa menurutmu ini jalan yang baik? Aku merasa… aku mungkin sudah sangat berdosa pada Naeun dan Ahyeong.” Ny. Lee bicara. Ia dan suaminya berada di kamar tidur dan berdiskusi ringan. Berdiskusi pada suaminya adalah hal yang paling sering ia lakukan as an old married couple.

 

“Tapi kau tetap melakukannya. Kau tetap meminta Minho datang dan kita bisa melihat sendiri… Taemin tidak pernah lebih bahagia dari hari ini,” Tn. Lee menjawab.

 

Menghela nafasnya, wanita tua itu mengangguk. “Taemin sudah terlalu lama menjadi anak yang penurut. Ketika melihatnya… aku sangat tidak tega.”

 

“Kau adalah ibu yang baik, sayang. Mungkin sekarang sudah saatnya, membiarkan Taemin mencari kebahagiaannya sendiri. aku sangat yakin pada anak kita. dia sudah dewasa dan pasti tau bagaimana melangkah. Kau sudah melakukan hal yang benar.”

 

 

 

 

 

 

 

 

END.

[Part 3/END] Sex And Relationship – 2min

hello!

it’s been a long day hahaha

I researched stuffs today but I’m not expert so besaically, things up in this fics are not even close to the reality LMAO /SAD

anyway glad that some of you leave a comment in the chapter before – I swear this should be a one shoot but I wrote too much lmao (a lot of unnecessary things, i know)

wrote it in quick so i hope you all could get the feel by the help of backsound music hehe.

 

 

 

 

Sex and Relationship

author: flamingaze

 

 

 

 

BGM : Ed Sheeran – Dive (click the link to hear it xoxo)

 

 

 

The proper goodbye

 

 

“I… love you, Minho.”

 

Taemin opened his eyes, suddenly looked around.

He was in bed – Minho’s bed.

He blinked couple times, realizing that it’s already noon. Right, he was coming to Minho’s room last night and did the thing with that man.

 

Wait.

 

Not only did it.

 

He also… confessed.

 

 

 

Maybe I came on too strong

Maybe I waited too long

 

 

“What the fuck?” Taemin sweared at himself, as he got off from bed and looking at his reflection in the mirror.

He gulped, starring at his beautiful naked body in the mirror. His hair was in a total mess, lips got swollen, million red marks – you called them hickeys – on his neck, and basically, these white and fair skin which was touched by Minho’s sinful hands.

 

The boy turned around, looking for Minho. well, he’s nowhere outside of his sight.

“Minho?” he called his name and there was no answer.

 

Walked near the balcony, he didn’t find Minho – there was only a blanket – that he used to cover his body before – lied on the floor. He bited his lips, remembering the love he had spoke to Minho last night. But…

 

“Taemin, I don’t think that you love me. You might be just really like to have sex with me.”

 

That’s what Minho’s answer. Honestly, that’s a really logic response but it sucks – and quite hurt to be heard. Minho might be right, though. If you asked him if he’s embarassed about the confession, yes he is. But if you asked him if he regrets it or not, he would say no… perhaps? Because, how could you call it’s not a love if your sickness, heartbroken, and sadness faded away and replaced by the heart-throbing which caused by another person? But Taemin couldn’t respond Minho’s statement anyway.

 

Maybe I played my cards wrong

Oh just a little bit wrong

 

 

He might be fall to a wrong person, yes it might be. But what could he do? It’s what his heart felt – Taemin was sure about that, cause he never felt like that before. He felt that he wanted to escape but it’s too late cause his heart was already sank in Minho’s ocean.

 

The pretty boy then came inside the bathroom for shower. He should leave this morning. Right, Taemin, you could fell in love in an instant way and got hurt by it, but you could get up and move on easily too – and you MUST.

 

When he’s done with his shower and get dressed, he starred at his phone, and read a message Akiko sent to him last night, and this morning.

 

 

‘Taemin, can’t we make up things? I love you.’

 

‘I should have not hoping you to forgive me, but I’m sorry. But you need to know that I love you, and that’s not changing – still.’

 

 

 

Taemin sighed. He then replied to her,

 

 

‘I will take my luggage and move. I’m sorry too for everything I’ve done to you.’

 

 

He got a message in a minute after he sent it.

 

‘You don’t want to come back to me, do you?’

 

Just by reading the message, Taemin felt he just faced an uncomfortable conversation and he’s already tired of it – in fact, he has already tired since years ago – it’s just he felt that now, he couldn’t bear them anymore.

 

He replied.

 

‘You’ve guessed it right.’

 

 

 

And that’s it. Their relationship is officially dead.

 

He sat in the sofa, and then opened the Airbnb site, looking for places he could rent monthly starting from today – he thought it would be good if he could directly moving in there after he took his luggage from the place he used to stay with his girlfriend – i mean ex-girlfriend.

He scrolled down his phone and found a place he could rent monthly – a bit far from his workplace but it’s near station. Maybe he could rent that for a month – or if that’s a good one, he probably could extend the rent – cause that’s the simplest way to get a secure place just now.

Renting process done in some seconds and he already called the host, Tatsuya, that he would come this evening to start the rent. Fortunately, the host was really nice and welcomed. What a relief.

 

 

 

“Oh, you’re already wake up.”

 

That husky voice made him turned left. That’s Minho.

 

Taemin just stood, looking at the handsome boy awkwardly – nothing could be more awkward than saying hello to a person who you confessed your feeling before.

 

“You look pretty.” Minho said, as he pinched Taemin’s cheek – he’s still as attractive as yesterday, by the way.

 

The shorter boy turned against him when Minho tried to kiss his cheek – told you, he seemed to like kissing Taemin’s cheek – and it made Minho realized that he was… rejected. In affection.

 

Well, he just smiled at Taemin. “Do you want to go for breakfast?” he offered. Yeah, this man knew how to break the silence and awkward – like nothing was happened.

 

Taemin released his heavy breathe. In his head, he’s so mad at Minho. He wanted to curse him for being care, flirty, and asshole, but a sweet and a man he’s in love with at the same time. How he wished he would not fall for him everytime he called him pretty.

 

“I need to take my luggage and move out. I just paid my house rent.” Taemin said.

 

Minho raised his eyebrows. “I thought that we have dealed that you will stay here –“

 

“Until i get the new place, yes. And thanks God, technology does exist that I could book and pay my rent everywhere only with this tiny thing you called phone.” Taemin answered.

 

Minho laughed. “Okay. What a defense,” he said. “I didn’t expect that we would say good bye this morning.”

 

I did expect this happend.” Taemin spoke, in annoying tone. “And I’m very glad that it is happening now.”

 

The handsome boy smiled at him. “Are you mad at me, baby?”

 

“No. And I’m not your baby.

 

 

 

So don’t call me baby

Unless you mean it

 

 

“Okay, you’re not mad.”

 

“Don’t give me that look if you don’t want me to mad at you.”

 

“It’s fine. You’re so pretty when you mad, though.”

 

 

 

Choi Minho. please stop.

 

I could fall or I could fly

Here in your aeroplane

 

 

 

“Stop calling me pretty.” Taemin said.

 

“But how could you ask me to lie to you? Because you are. You are so pretty.”

 

Taemin looked at him in fierce look – he’s indeed look so mad. He’s really mad that Minho could still make him blush even he’s already been rejected – and he would still feel like he’s that pretty in Minho’s eyes.

 

“If I’m so pretty as what you said, no one could reject me. Or abandoned me.” Taemin spoke in sarcasm.

 

I could live, I could die

Hanging on the words you say

 

 

Minho smiled at him. “Was it because last night when you say you love –“

 

“No. I’m talking about my ex-girlfriend.” Taemin cut Minho’s words – denial.

 

Minho stepped closer to Taemin, and the shorter boy walked back until his back met the wall. That’s not a good place to have a conversation with, to be honest. Not when Minho was one step in front of him.

The taller boy touched Taemin’s chin as they faced each other’s beautiful faces. Well, look at that pretty face Taemin had; he frowned and obviously look pissed off. Don’t you find him really cute when you recall back how they met, then had sex, and from that instant night, Taemin acted like a mad spoiled boy because his ‘boyfriend’ didn’t say what he wanted to hear?

 

Still smiling at Taemin, Minho, being the player as he usually does, bended forward and reached Taemin’s lips.

 

Lord in the heaven, please?! Let Minho stop made this child fell more and more because his heart soon would be broken worse than yesterday.

 

The kiss stopped in a sec as Taemin pushed Minho’s body gently.

 

“Minho, I’m not your toy.” Taemin said, as he felt surrender.

 

Minho flenched. “You’re not. Also, I played video game – I hate toys,” he replied, still have those bad jokes.

 

Well, that made Taemin did another stupidity. He laughed – bitterly – to his bad joke. “I think I have to go now.”

 

The taller man stepped backwards. “Okay… time to say good bye, i guess?”

 

Taemin nodded, then he lowered his head as he walked to take his jacket.

 

 

 

“Hey.”

Taemin stopped as he listen to Minho’s voice calling him.

 

Don’t tell me you need me

If you don’t believe it

 

 

“When you’re out from this room, please remember that you’re beautiful, you deserve everything, and you will find someone who love you equally as you love this person.”

 

The pretty boy took a breathe in a sec. He really wanted to leave and forgot every mess that happened last night, but something in Minho’s words just told him to think otherwise.

 

Choi Minho, how could you say like that when in fact, Taemin wished that person was you?

 

“Minamihanahata, Adachi 121-0073. You know where to go if you want someone laugh over your bad jokes.”

 

That’s what Taemin said as he left Minho’s room.

 

 

“Shit, Lee Taemin. Why did you just tell him casually like that?” he complained to his heart as he entered the lift. It’s not like Minho would come to visit him, though.

 

 

I’ve been known to give my all

 

Or… is he?

 

 

 

And jumping in harder than

10,000 rocks on the lake

 

 

 

 

 

 

Well, he’s not.

It’s already seven weeks since Taemin stayed in this house.

 

===

 

 

It’s already night, 10 pm.

 

Taemin sighed. He walked slowly from the station nearby, he’s really exhausted since he was at the office. They were in a rush and rush and rush and rush for reporting and editing the news. But this was what he should thank for – got busy, and got money for rent and basically life.

He was about to think that he would put a jazz music as he showered and got chill after exhausting life recently he passed, until he stopped his feet from walking. Found someone he knew really well stood in front of his small apartement.

 

 

 

Silence.

 

He. Didn’t. expect. Minho. to come.

 

What is he doing here? How can he come here when I started to stop hoping him to visit? How can he still remember this address? Since when he stood there? Why does he come over? Those questions came into Taemin’s mind without stop.

 

“Hi.” Minho talked to him, friendly. Fuck, he’s so handsome with that white long tee with baby blue jeans.

 

Taemin walked as he faced the handsome boy closer. “Good evening,” he said, in a flat tone, flat expression.

 

“I bought some grocerries. Have you eaten your dinner?” Minho asked. He showed Taemin a big plastic bag on his hand.

Taemin looked at him in disbelief. How could this man come and bought a grocerries after they did not talk for weeks? What the fuck?!

“So… you have got your dinner.” Minho said, breaking Taemin’s confussion.

 

“What are you doing here?” Taemin finally spoke, after choosing what question he should ask first.

 

“You told me your address the other day before. I thought I can come over to have some meal, perhaps?” He answered.

 

 

 

So let me know the truth

Before I dive right into you

 

 

THEN WHY THE FUCK YOU JUST COME TODAY? Taemin really wanted to burst out into that question but he didn’t want to argue – he needs to chill so he would not like he’s hoping things going far between them.

 

“Come over.” Taemin said as he opened the door and let Minho in to his place – never did he knew that he just let him entered his palpitating heart. Again.

 

“What a nice place.” Minho said as he entered the small apartement Taemin got – it’s only two floor with three house in the same garden, and Taemin got the first floor one.

 

“I will get a shower and cook, I guess?” Taemin said as he opened the grocerries Minho put in the dining table.

 

“No, just take a shower. I will cook for both of us.” Minho replied, as he took the grocerries from Taemin.

 

The shorter boy stepped aside. “Okay. But I don’t want to eat that carrot,” he said. He wasn’t wrong when he found that orange vegetable before.

 

“You don’t like carrot?” Minho looked at him in disbelief.

 

“Yeah, why?”

 

“It’s good for your eyes.”

 

“So? It’s not that I’m going to die if I don’t eat them.” Taemin defended himself.

 

Minho laughed. “Okay, no carrot. Any other special request you don’t want to eat?”

 

“Other than carrot is fine.”

 

“Okay. Take your shower now and the meal will be ready soon.” Minho smiled. Attractively.

 

 

 

Ugh. Can’t he just stop being this beautiful?

 

“Well, happy cooking, i guess?” Taemin spoke, leaving the dining room and got in to the bathroom after he took some clothes from his wardrobe.

 

You’re a mystery

 

 

 

 

Taemin went out from bathroom when Minho was pouring a corn soup. The taller man then put them into the table, along with a fetuccini – with shrimp and mushroom.

 

“Have a seat.” Minho said as he saw Taemin with his pajama came close to the dining table.

“How is it?” he asked as soon as Taemin tasted the soup.

 

“Nice. Because… no carrot.” Taemin answered, smiled a bit.

 

Minho giggled. “I listened to what you order.”

 

“I’m honored then.”

 

 

Minho smiled at him. “So… how’s life?” he asked, as they eat together.

 

“Busy. I got rush for news lately. Reporting the free trade agreement between US and Japan. You know, your lovely president is problematic.” Taemin answered.

 

“Wow. You said ‘lovely’ as if I like Donald Trump.” Minho against him.

 

“That’s your president.” Taemin replied, closer to mocked him, by the way.

 

“He is, but I don’t want to call him a president. Everybody knows that he’s a dick.”

 

“Well, you can’t call him a dick.” Taemin said.

 

“Why, though?”

 

“Because that means you have your own Donald Trump.”

 

 

 

 

Silence.

 

 

 

“OHMYGOD HAHAHAHA!” Minho bursted in laugh and Taemin couldn’t help but also laugh at his own joke. Now, who got a bad joke and who laughed at the bad joke?

“I would never named him Donald Trump. Never.” Minho said.

 

“Then what you called him? Tiny Minho?” Taemin asked.

 

“Listen. Don’t ever called him tiny anymore because you know it’s not ‘tiny’ as what you mentioned.”

 

Taemin held his laugh. Oh shit, where the fuck the awkward went to?

“I don’t know, Sir. I forgot if that’s tiny or supertiny.” Taemin said.

 

Minho’s eyes got wider as he listened to Taemin’s response, making the pretty boy laughed out loud. Truely… he’s truely annoying.

“Fuck.” He swore at Taemin.

 

You did. With no protection.” Taemin answered again – more annoying.

 

Minho bited his lips and laughed. “You asked me, with no mercy.”

 

“I did.” Taemin answered. “And still didn’t make you love me.”

 

 

 

 

Oops.

Those sentence brought them into silence.

God, Lee Taemin. You really didn’t know how to shut your mouth, did you?

 

“Well…” Minho spoke. “I guess… you mad at me?”

 

Taemin took the glass of a water and drank it. He shook his head. “I’m moving on. As you can see,” he smiled, trying to make good atmosphere. He didn’t lie though. At least he tried to move on from that fucking one-night-stand-turned-into-love.

 

Does it mean you found the love of your life, then?” Minho asked – he sounded curious.

 

Taemin raised his eyebrows, then nodded. “Yes.

 

“Who is this lucky person? If you don’t mind to tell.”

 

Taemin gulped. “His name is… Kevin. He’s from… Australia.”

Minho tilted his head. He listened to Taemin carefully.

“He…” Taemin paused a second before he continue, “… he is taller than me, he got a curly hair, slim body, beautiful blue eyes, pale skin, he wore… a ring in his nose, and he has a descent voice when he speak.”

 

Minho smiled at him. “So, he really sounds like that young LGBT icon who’s popular in US named Troye Sivan.”

 

Taemin coughed – almost choked. “But his name is Kevin.”

 

Well, even stupid people would realize that Taemin was lying. But Minho didn’t against him anyway, he just smiled at Taemin.

Kevin must be jealous if he knew that I cooked for his boyfriend.” he spoke.

 

The pretty boy just shrugged. “Maybe. He’s not that jealous.”

 

“What a fortunate. If I were Kevin, I would have been very… very jealous hearing another gay man came to see you when you’re alone. Especially, when you had that face.” Minho said, as he took their empty plates. “No offence, I’m being honest that you’re getting prettier now.”

 

Taemin frowned. “At least he trust me. Because I’m a faithful one, and I believe with my heart.” He answered in confident – shaded Minho a bit – while helped Minho to put the plates in the westafel – to be washed.

 

“You must be have a really good heart, Lee Taaemin.”

 

“I am. You’re not the one who said so.”

 

“It’s really good that you have that confident now. Look at yourself Lee Taemin. You’re smart, brave, confident, and amazing in person.”

 

 

I have travelled the world

And there’s no other boy like you, no one

 

 

Taemin smiled at Minho. He held himself, trying to identify what’s the meaning of those compliments. He hoped he would not fall to it.

But… he didn’t expected that Minho suddenly gave him a kiss in his forehead – it was really quick.

 

 

“I’m sorry for the kiss…” the tall man said. “I felt like we didn’t get a chance to say a nice goodbye before. I’ve been thinking of you lately, so… I came to see you – to say a proper good bye to you.”

 

Taemin blinked his eyes. “Proper goodbye… what do you mean?”

 

Minho smiled. “I’m coming back to US tomorrow.

 

I could fall or I could fly

Here in your aeroplane

 

Taemin gulped. He couldn’t speak. So… this time has came. He didn’t have any hope. He really wished he could say that he love the handsome man but the fear of rejection haunted him.

Face the reality, Lee Taemin! Minho came here to say goodbye to you, not because anything else.

Okay but…

 

 

“Have you… told the other boys a proper goodbye?” Taemin asked, in a low tone. “Because… if you haven’t… I think you should –“

 

No.” Minho answered, undoubtfully. “I don’t usually say good bye to everyone I met randomly… I think… because we didn’t say a nice goodbye, I should… no, I mean…” Minho paused. He looked at other than Taemin – as he was thinking why should he say a proper goodbye to Taemin, unlike the other boys.

 

 

 

 

 

A couple minutes of silence.

 

“Taemin…”

 

“Minho…”

 

 

They called each other’s name at the same moment. Both of their eyes met and both of them paused, wondering what’s on the other’s mind.

 

“You first.” Taemin said.

 

 

“I…” Minho released a breathe. “I wonder… if you don’t mind…”

 

 

 

Again, he paused.

 

Taemin was in silence when Minho stopped his sentences.

Both of them stared at each other’s eyes.

No one talked – but Taemin had a speculation in his mind about Minho, so he replied,

 

 

 

I could live, I could die

Hanging on the words you say

 

 

 

 

 

“… I don’t mind.”

 

 

That’s it.

 

The next second, Minho bended his face and kissed Taemin lips. he kissed him gently and sweet as what he did before; but this time… it’s a bit… different.

 

Taemin didn’t give any protest reaction as Minho walked him into his bed – they fell into that single bed, kissing each other’s lips.

 

Minho broke their kiss in a second. “Taemin, I’m sorry, I shouldn’t do this to you. I’m just –“

 

“Can you shut the fuck up and don’t stop kissing me?”

 

Minho blinked his eyes. He didn’t expect Taemin’s reaction – though he was happy for Taemin’s respond.

 

Taemin then moved aside, leaving a space beside him for Minho. “Let’s pretend that nothing happened today.”

 

Slowly, Minho the lied down beside him. He didn’t speak anything, he just gave Taemin a sweet and delicate cuddle, and they kissed couple times until Taemin fell asleep in Minho’s arm.

 

 

 

There were no sex. Not even dirty thought.

 

 

 

 

 

As he fell asleep, Taemin let his tears rolled down to his cheek until it’s finally drained after landed in Minho’s clothes. Without saying any words, Minho embraced the pretty boy and kissed his forehead softly.

 

I’ve been known to give my all

And lie awake, every day

Don’t know how much I can take

 

 

 

 

 

So don’t call me baby

Unless you mean it

 

 

===

 

 

 

Dear Lee Taemin,

 

I wished I could wake you up in the morning but I couldn’t – you’re sleeping lika a dainty angel I didn’t dare to speak anything.

 

 

 

Taemin washed his face quickly, and without thinking twice, he went out from his apartement – he didn’t care that he’s still in his pajama with an ugly footwear without any sock in it.

 

 

I’m flying to US this morning, and my flight is the first flight to go. It’s really hard to say it without feeling sad. I’ve been thinking since months and I realized now that I’m such a loser.

 

 

Taemin ran as fast as he could. He looked around in the middle of people who were passing and looked at him in confused – he looked weird, but who cares? He then finally stopped when he got a taxi.

 

 

You told me about your feelings the other day. You might not believe this but that time… honey, honestly, I was really confuse – I didn’t know what love means and I would never thought that I could have a chance to feel that chessy feelings called love.

 

 

 

“Narita airport. Please be quick…” Taemin said as he got in to the taxi.

 

 

Eversince you told me that you loved me and left, I couldn’t stop thinking about you. I went out and find any other people I could spend a night with, but I still couldn’t stop thinking about you. And i wonder… is this what you feel when you’re in love? Is it possible to be in love when someone told you that he’s in love with you?

 

 

 

 

Taemin closed his eyes. He then held his tears as he continue to read Minho’s letter to him.

 

 

So I decided to meet you today. I honestly wanted to ask you about this thing. But I could see, clearly, that I have given you a heartbreak the other day. I would never dare to tell you that I miss you – how I wish I could turn back the time and tell you about the feelings I would probably never have a chance to tell you directly. Because, honey, you should have known, that you deserve everything. And if God does exist, He may do this to me because I don’t deserve you.

 

 

Taemin shook his head. Minho is a dumb. He is so stupid that Taemin would really want to tell him that directly.

 

 

 

I knew I made you cried, and I could do nothing – how many times you cried because of me? But, I hope that it won’t happen again starting from now.

You deserve to be happy; you deserve a man that could treat you better than me. And I really mean it that I hope you find that man soon.

 

 

 

Taemin gave the cash money to the driver as soon as they arrived in the airport. Without thinking twice, he ran out in the airport, looking at the board that showed the flights for today.

 

“LAX… LAX….” he mumbled, reading one by one list of the flight.

 

 

For letting me know how does it feel to be in love, I’m really thankful to you Lee Taemin. I will always remember you when I look at the sky, because I know, you’ll always be my Orion – those constellation that help people to find a way when they’re lost – as you let me find what was the meaning of those complex feelings called love.

Please take care of this necklace. I gave it for you as I apologize for everything, and for this feelings I had never spoke to you.

 

 

 

 

Taemin cried. He opened his grip as he heard this morning’s flight has just flown – he was too late to think that he could meet Minho today – and he found the necklace, with the pendant of Orion-constellation shaped.

 

 

 

 

I love you, I’m sorry for too late realizing it.

Choi Minho

 

 

 

 

 

 

I love you… I love you Minho. I love you…” Taemin sobbed, he wished he could do something to find Minho right now.

 

 

I could fall or I could fly

Here in your aeroplane

 

 

 

His heart was exploded into million pieces. They didn’t even have any time to talk about how they were in love to each other; and blaming Minho was useless, because he also didn’t think that Taemin would like to accept him wholeheartedly if he knew his feelings.

 

 

 

I could live, I could die

Hanging on the words you say

 

 

 

It hurts, indeed. But if it didn’t hurt, it wasn’t love.

 

 

 

I’ve been known to give my all

Sitting back, looking at

Every mess that I made

 

So don’t call me baby

Unless you mean it

Don’t tell me you need me

If you don’t believe it

So let me know the truth

Before I dive right into you

Before I dive right into you

Before I dive right into you

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EPILOGUE – two years after;

 

Taemin took his phone as he heard that it vibrated in his pocket. He looked at Akiko’s name in there.

“Excuse me,” he said as he spoke to his co workers – they were in a restaurant to have dinner together – then he went out of the restaurant to picked up the call.

“Hello?”

 

“Taemin? Could you please do me a favor?”

 

“What is it?”

 

“Yukio told me that his parents would come over. What do you think I should wear? A dress?”

 

Taemin rolled his eyes. “Do you think that I have experienced those shit? Wear whatever you want and – ouch!”

He held his shoulder as when some people pushed him accidentally. He turned around and found some boys in uniform apologized to him. Well, it’s Valentine night, so people must be in hurry, he thought that he shouldn’t make a small mistakes become bigger. He then just nodded and when he’s about to turn back….

 

 

 

 

 

 

… he blinked his eyes. Looking at a person in the street across him.

 

That guy was crossing the street, directly walked into him. Again, Taemin blinked his eyes again, until that man stood in front of him.

 

 

 

 

 

 

“Choi… Minho?”

 

He said, in a tremble voice. The guy who stood in front of him looked as shock as him. Taemin looked at the coffee that man held and it’s written his name, Choi Minho.

 

Everything was recalling back. Who thought that they would be meet after years passed? They didn’t even exchange each other’s contact before – that they couldn’t even know how each other’s life.

They both didn’t speak; couldn’t believe with what’s shown in front of their eyes.

 

 

 

 

Until a minute when Minho found that the necklace he gave to Taemin was there; beautifully locked up in his neck…

 

 

 

The taller guy smiled and without thinking twice, he embraced Taemin’s slim body, whispering in his reddish ear, “I’ve been miss you for long time, my Love.”

 

 

 


 

 

please leave a comment haha

I swear I’m not advertising Airbnb lmao

also sorry for the worse feels i am so !#$%^ writing this

love you all ^^